Sejarah di Balik Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah, Kenapa Diadakan?

Izzul Millati
15 Juli 2026, 13:30
gerakan Ayah antar Anak
Katadata
gerakan Ayah antar Anak
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Memasuki tahun ajaran 2026/2027, pemerintah mulai menggalakkan gerakan Ayah antar Anak pada hari pertama sekolah. Program ini mengajak para ayah untuk meluangkan waktu mengantar putra-putrinya ke sekolah sebagai bentuk keterlibatan dalam pengasuhan sekaligus memberikan dukungan emosional saat anak memulai kegiatan belajar.

Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada Senin, 13 Juli 2026, bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah di berbagai daerah di Indonesia. Program ini digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026 yang ditujukan kepada pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Pemerintah daerah kemudian menindaklanjuti kebijakan tersebut dengan mengeluarkan imbauan agar para ayah dapat terlibat langsung mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk.

Program ini bukan sekadar seremonial menyambut tahun ajaran baru, melainkan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat fungsi keluarga. Pemerintah menilai kehadiran ayah memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak. Oleh karena itu, momentum hari pertama sekolah dipilih sebagai langkah awal untuk mendorong keterlibatan ayah secara lebih aktif dalam proses pendidikan dan pengasuhan.

Sejarah Gerakan Ayah Antar Anak

Munculnya gerakan Ayah antar Anak berangkat dari perhatian pemerintah terhadap masih rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia. Selama ini, peran pengasuhan lebih banyak dijalankan oleh ibu, sementara ayah cenderung dipandang sebagai pencari nafkah. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi agar tercipta pola pengasuhan yang lebih kolaboratif di dalam keluarga.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kemendukbangga menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026 yang mengatur pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) serta Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas keluarga melalui keterlibatan aktif ayah dalam pendidikan anak.

Hari pertama sekolah dipilih karena merupakan momen penting yang sering kali menentukan kesiapan mental anak dalam menghadapi lingkungan baru. Kehadiran ayah pada saat tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, serta membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Selain itu, keterlibatan ayah juga diharapkan dapat memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak sejak awal tahun ajaran.

Kenapa Gerakan Ayah antar Anak Diadakan?

Menurut Kemendukbangga, keterlibatan ayah dalam pendidikan anak memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter. Anak yang memperoleh perhatian dari kedua orang tua cenderung memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik, tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi, serta hubungan keluarga yang lebih harmonis.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi fenomena fatherless. Istilah fatherless merujuk pada kondisi ketika seorang anak tidak memperoleh kehadiran atau keterlibatan aktif figur ayah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penjelasan Kemendukbangga, kondisi tersebut tidak selalu berarti ayah tidak ada secara fisik, tetapi juga dapat terjadi ketika ayah hadir dalam keluarga, namun tidak terlibat secara sosial maupun emosional dalam proses pengasuhan anak.

Isu tersebut menjadi perhatian pemerintah karena angkanya masih cukup tinggi. UNICEF pada 2021 mencatat angka fatherless di Indonesia sebesar 20,9 persen. Sementara itu, berdasarkan Pendataan Keluarga 2025 (PK25) yang dirilis Kemendukbangga, proporsi fatherless meningkat menjadi 25,8 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian melalui berbagai program penguatan keluarga.

Melalui gerakan Ayah antar Anak, pemerintah berharap para ayah tidak hanya hadir mengantar anak pada hari pertama sekolah, tetapi juga semakin aktif mendampingi proses belajar, berkomunikasi dengan anak, menghadiri kegiatan sekolah, serta terlibat dalam berbagai aktivitas pengasuhan secara berkelanjutan. Dengan demikian, program ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga sekaligus mengurangi fenomena fatherless di Indonesia.

Di sejumlah sekolah, para ayah terlihat hadir mengantar anak hingga gerbang sekolah sebelum kegiatan belajar dimulai. Kehadiran tersebut disambut oleh guru dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya menciptakan suasana yang ramah bagi peserta didik pada awal tahun ajaran. Di beberapa daerah, kegiatan ini juga dipadukan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sehingga menjadi momentum mempererat hubungan antara keluarga dan sekolah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan