Merawat Ingatan Prahara Agustus 2025 Lewat 74 Foto Warga di Pameran REST(AT)
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) bersama Watchdoc, Indonesia Corruption Watch (ICW), Amnesty International Indonesia dan lima organisasi lainnya mengadakan pameran bertajuk “REST(AT): Ruang Temu Warga” di M Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 8-9 September 2026.
Pameran ini menghadirkan ruang bagi pengunjung untuk melihat kembali berbagai peristiwa dalam "Prahara Agustus 2025" melalui arsip visual, memorabilia, serta catatan saksi mata. Sebagian besar materi dalam pameran ini berasal dari dokumentasi warga yang berada di lokasi ketika rangkaian demonstrasi berlangsung pada Agustus 2025.
Sebanyak 74 foto ditampilkan dan dibagi ke dalam tiga babak, yakni Perlawanan, Pembungkaman, dan Partisipasi Masyarakat. Ketiga babak tersebut menggambarkan rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum hingga setelah demonstrasi pada Agustus 2025.
“Sebenarnya yang ingin kami ceritakan dari setiap babak ini adalah peristiwa tersebut tidak lahir dari isu tunggal, melainkan dari akumulasi kekecewaan masyarakat yang akhirnya meledak pada 28 Agustus tahun lalu,” ujar Eddy Susanto, kurator foto, dalam sesi
pembukaan pameran, Selasa (8/9).
Pameran tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi warga yang terlibat langsung dalam aksi maupun pendampingan korban. Iqbal dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyatakan dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran baru menggambarkan sebagian
kecil dari kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat.
Menurut dia, TAUD sepanjang rangkaian peristiwa tersebut melakukan pendampingan, dokumentasi, pendataan, serta pemantauan informasi mengenai penangkapan melalui media sosial. Ia menyebut jumlah orang yang ditangkap sangat besar, sementara jumlah
pendamping hukum yang tersedia terbatas.
“Waktu hari pertama penangkapan itu kalau tidak salah kita hanya enam orang harus mendampingi 700 orang,” kata Iqbal.
Ia mengatakan penangkapan berlanjut pada hari-hari berikutnya. Kondisi tersebut membuat TAUD harus membagi tim ke sejumlah lokasi untuk memantau penangkapan dan memberikan pendampingan.
Banyak Kasus Pelanggaran HAM Tidak Dapat Sorotan
Bagi Iqbal, pameran REST(AT) menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan publik terhadap berbagai peristiwa yang terjadi. Ia mengatakan banyak kasus pelanggaran HAM tidak mendapatkan ruang pemberitaan yang cukup di media.
“Acaranya bagus menurut saya. Ini setidaknya kemudian membantu kita merawat kenangan bahwa setiap tahun atau bahkan setiap hari ada penindasan terhadap keluarga sipil, terhadap masyarakat,” ujar Iqbal.
Ia juga menilai penyelenggaraan pameran menjadi bentuk keberanian untuk terus membicarakan persoalan kekerasan dan pelanggaran HAM di tengah situasi yang menurutnya masih mencekam.
Kesaksian lain datang dari Khariq Anhar, salah satu warga yang mengikuti demonstrasi pada 28 Agustus 2025. Khariq mengatakan dirinya berada di Jakarta ketika demonstrasi berlangsung dan berencana kembali ke Riau pada 29 Agustus. Namun, setelah mengunggah informasi mengenai meninggalnya Affan Kurniawan berdasarkan informasi dari kawan-kawannya di lapangan, ia kemudian menghadapi proses hukum.
“Saya mengikuti demonstrasi di tanggal 28 Agustus 2025, tapi sampai sore saja. Tanggal 29-nya saya mau pulang ke Riau,” kata Khariq.
Menurut Khariq, hingga pameran berlangsung, dua perkara hukum yang menjeratnya belum selesai. Salah satu perkara berada pada agenda duplik, sementara perkara lainnya memasuki proses kasasi.
Ia mengatakan proses hukum yang panjang turut mempengaruhi kondisi fisik dan mentalnya. Salah satu perkara masih menjalani persidangan secara berkala, sedangkan perkara lainnya masih menunggu proses kasasi.
Khariq menilai foto menjadi medium penting untuk menggambarkan pengalaman warga yang terlibat dalam demonstrasi dan kemudian menghadapi proses hukum. Menurutnya, pengalaman tersebut sulit dijelaskan hanya melalui cerita karena terdapat ketakutan yang
menyertai para korban.
“Dengan ada visualisasi, semoga teman-teman bisa mengambil nilai ataupun mengambil perspektif apa sih yang terjadi pada malam hari itu,” ujarnya.
Ia menilai foto-foto dalam pameran dapat membantu pengunjung memahami situasi Ketika kemarahan warga memuncak setelah Affan Kurniawan meninggal.
Pameran ini tidak hanya menampilkan pameran foto-foto sepanjang rangkaian aksi Agustus 2026, namun juga mengadakan penampilan musik, workshop, dan talk show yang mengundang keluarga para tahanan politik pasca-Agustus 2025.

