Menelisik Asal Usul Gereja Blenduk, Ikon Bersejarah di Kota Lama Semarang

Tim Publikasi Katadata
1 September 2026, 14:13
Pekerja menyelesaikan proyek rehabilitasi bangunan Cagar Budaya Nasional Gereja Immanuel atau Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/11/2024). Program rehabilitasi cagar budaya Gereja Blenduk yang dilakukan oleh Kementerian PUPR d
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/agr
Pekerja menyelesaikan proyek rehabilitasi bangunan Cagar Budaya Nasional Gereja Immanuel atau Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/11/2024). Program rehabilitasi cagar budaya Gereja Blenduk yang dilakukan oleh Kementerian PUPR dengan menggunakan biaya APBN 2024 senilai Rp26,2 miliar tersebut telah mencapai 71 persen dan ditargetkan selesai pada Desember 2024.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Salah satu tempat ikonik yang sering dikunjungi masyarakat ketika berkunjung ke kota lama semarang, Gereja Blenduk. Gereja yang menjadi salah satu bangunan yang sulit untuk tidak dijumpai ketika berkunjung kesana. Ciri khas berupa kubah besarnya yang membuat gereja ini mudah dikenali sekaligus menjadi bagian dari ikon tersendiri bagi wajah kawasan Kota Lama. 

Di balik bentuk kubahnya yang khas, Gereja Blenduk memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Bangunan yang kini dikenal sebagai GPIB Immanuel Semarang tersebut telah mengalami sejumlah perubahan sejak pertama kali digunakan sebagai tempat peribadatan hingga ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Indonesia. 

Usianya yang sudah ratusan tahun, dari awal masa pembangunan hingga sekarang, Gereja Blenduk bukan hanya memiliki nilai dan fungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai salah satu bagian dari sejarah dan perkembangan Kota Semarang. 

GPIB Immanuel Semarang tercatat sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional dengan Nomor Registrasi Nasional CB.57. Penetapannya dilakukan melalui SK Nomor 243/M/2015 pada 18 Desember 2015.

Gereja ini berada di Jalan Letjen Suprapto No. 32, Kota Lama, Semarang, dan menjadi salah satu bangunan yang memperkuat karakter kawasan bersejarah tersebut.

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah bangunan yang kini berdiri di kawasan Kota Lama Semarang. Lantas, bagaimana awal mula Gereja Blenduk berdiri?

Berawal dari Jemaat Protestan di Semarang

Sejarah mengenai komunitas Protestan di Semarang telah ditemukan sejak 1742. Aktivitas jemaat tersebut kemudian berkembang hingga gereja mulai difungsikan pada 1753. Pada awal berdirinya, bangunan gereja tidak berbentuk seperti yang terlihat sekarang. 

Bangunan gereja tersebut masih berupa rumah panggung bergaya Jawa atau joglo dengan atap tajuk. Pendeta pertama yang tercatat melayani gereja tersebut adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar, yang menjalankan pelayanan pada 1753 hingga 1760.

Fungsi awal bangunan gereja tersebut juga memiliki fungsi yang cukup menarik dalam sejarah perkembangan tempat ibadah di Semarang. Gereja tersebut pernah digunakan oleh umat Katolik untuk beribadah sebelum gereja Katolik pertama kali ada di Gedangan.

Pada 1787 hingga 1794, gereja ini dilakukan renovasi besar-besaran. Struktur bangunan diperkuat dan bentuknya diganti, yang awal bangunan gereja ini masih berupa rumah panggung, pada periode ini di ubah mengikuti pola gereja Protestan Eropa dengan pengaruh arsitektur Barok dan Renaisans.

Perubahan besar berikutnya terjadi pada 1894–1895. Renovasi dilakukan oleh arsitek H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas. Pada periode ini, bangunan gereja mengalami penambahan kubah besar dan dua menara di bagian depan. Bentuk inilah yang kemudian semakin mendekati tampilan Gereja Blenduk yang dikenal hingga sekarang.

Pada masa perjalanannya, Gereja ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah saja. Sekitar tahun 1942–1945, pada masa indonesia masih di bawah pendudukan jepang, bangunan gereja sempat mengalami perubahan fungsi yang awalnya digunakan sebagai tempat ibadah pada periode ini dialihfungsikan menjadi gudang senjata. 

Setelah periode tersebut berlalu, pelayanan gereja kembali berjalan. Pada 1948, gereja berada di bawah pelayanan GPIB, dan kemudian dikenal sebagai GPIB Immanuel Semarang.

Ratusan tahun setelah pertama kali digunakan sebagai tempat ibadah, Gereja Blenduk kini menjadi salah satu bangunan yang melekat dengan identitas Kota Lama Semarang. Keberadaannya tidak hanya menarik perhatian wisatawan yang ingin melihat arsitektur bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman menikmati Kota Lama melalui berbagai kegiatan.

Salah satunya melalui Semarang Night Heritage Run (SNHR). Menggabungkan aktivitas olahraga dengan suasana kawasan bersejarah, SNHR memberikan cara berbeda bagi peserta untuk menikmati lanskap Kota Lama Semarang.

Dengan demikian, bangunan seperti Gereja Blenduk tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu. Di tengah berbagai aktivitas kota hari ini, keberadaannya tetap menjadi bagian dari cara masyarakat mengenal dan menikmati sejarah Semarang.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan