Hancur di Masa Pandemi, Sektor Hospitality Berharap Segera Pulih

Pembatasan mobilitas masyarakat, kebijakan lockdown dari sejumlah negara, hingga melemahnya ekonomi membuat sektor hospitality hancur lebur di masa pandemi.
Image title
29 Juli 2021, 14:18
Pekerja membersihkan sebuah kamar di De Braga Hotel, Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/5/2021). Sektor perhotelan merupakan salah satu sektor yang hancur lebur karena pandemi.
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pras.
Pekerja membersihkan sebuah kamar di De Braga Hotel, Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/5/2021). Sektor perhotelan merupakan salah satu sektor yang hancur lebur karena pandemi.

Pandemi Covid-19 menjadi penyebab meredupnya binar dari industri perhotelan dan restoran sejak tahun lalu.  Pelaku industri hospitality pun berharap segera pulih dari pandemi dengan sejumlah strategi. 

Dampak besar dari pandemi dirasakan pekerja di sektor tersebut. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengatakan sampai dengan paruh pertama tahun 2021, sebagian besar tenaga kerja di sektor perhotelan sudah berkurang. 

“Memang hampir 60% tenaga kerja di sektor pariwisata khususnya di hotel restoran itu sudah tidak bekerja dengan status tidak diperpanjang kontraknya,” kata Maulana dalam seminar bertajuk Industry Outlook 2nd Semester 2021, Kamis (29/7).

 Pembatasan mobilitas masyarakat secara ketat, kebijakan lockdown dari berbagai negara, dan melemahnya pertumbuhan ekonomi membuat pendapatan di sektor perhotelan dan restoran anjlok.

Advertisement

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan tingkat penghunian kamar hotel terkontraksi sebesar 39,75% di tahun 2020 sementara itu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara juga anjlok 75,03%.

Tidak hanya itu, sektor penyedia makanan dan minuman  terkontraksi sebesar 10,22% di 2020, salah satunya karena konsumsi masyarakat pada sector tersebut menurun 8,14%. 

Selain dari berkurangnya pendapatan, Maulana menyebut perubahan minat masyarakat dalam berwisata juga menjadi penyebab merosotnya pertumbuhan sektor perhotelan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Inventure-Alvara, sebanyak 83,1 % masyarakat memilih berwisata ke desa wisata di masa dan pasca pandemi karena dianggap aman. 

Merujuk pada riset tersebut, Maulana menyebut perubahan perilaku masyarakat tersebut bisa menjadi strategi baru bagi para pelaku industri hotel.

“Kita bisa manfaatkan itu, dengan sedikit mengemas seperti homestay untuk mengikuti keinginan traveler.” kata Maulana. 

Tak hanya pengurangan tenaga kerja, Maulana menyebut industri hospitality juga mengalami penipisan dana cadangan perusahaan yang terus berkurang selama pandemi. Dana cadangan ini digunakan untuk membayar pajak serta biaya listrik. 

“Keadaan ini menggerus perusahaan sehingga tidak memiliki dana cadangan lagi. Kami berharap Pemerintah Indonesia mengurangi beban yang menjadi kewajiban pelaku usaha juga terkait masalah bunganya.” ujar Maulana.

 Agar tetap menjalankan roda bisnisnya, Maulana menyebut para pelaku usaha perhotelan akhirnya banting setir. Mereka mengambil tawaran program pemerintah dengan menjadikan usahanya sebagai tempat isolasi mandiri bagi pasien Covid-19. 

"Ketika menerima itu, langsung menyelamatkan tenaga kerja. Jika nanti tenaga kerjanya ada yang kena dari kontak dengan pasien isoman, dapat terlindungi atau kita dapat mengisolasi mereka,” kata Maulana. 

Kebijakan yang pemerintah keluarkan dengan peniadaan mobilisasi masyarakat ini sangat menyulitkan. Dia mengatakan, seharusnya pemerintah melakukan perencanaan yang lebih matang.

“Kalau gak ada mobilisasi orang-orang juga efeknya ke transportasi jadi terbatas juga. Kalau sudah begini, otomatis sektor pariwisata tidak akan bisa bergerak. Jadi kita sedang menunggu perbaikan,” ujar Maulana.

Meski kasus positif Covid-19 masih tinggi, Maulana tetap berharap keadaan semakin membaik. Melalui pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) serta percepatan vaksinasi, ia optimis perekonomian di sektor hospitality dapat mengalami pertumbuhan. 

“Kunci peningkatan pertumbuhan pariwisata itu ada perubahan perilaku masyarakat dan vaksin sebagai game changer. Untuk tetap memperketat protokol kesehatan (prokes) dan terjadinya peningkatan vaksinasi, termasuk di luar pulau Jawa,” kata Maulana. 

(mela syaharani)

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait