Menperin Sebut Cina di Balik Lonjakan Harga Baja Dunia hingga 20%

Pemerintah akan mengoptimalkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk baja.
Image title
16 Agustus 2021, 22:18
baja, Tiongkok
ANTARA FOTO/Humas WIKA/aww.
Menteri Delegasi Perdagangan Luar Negeri dan Daya Tarik Ekonomi Prancis Frank Riester (kiri) melihat produksi baja saat kunjungan kerja ke pabrik WIKA di Balaraja, Tangerang, Banten, Selasa (15/12/2020). Kunjungan tersebut terkait kerja sama antara perusahaan konstruksi Prancis Matiere dengan WIKA IKON untuk produksi Jembatan Modular Unibridge.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan saat ini harga baja konstruksi di pasar global rata-rata naik sekitar 10-20%. Kenaikan tersebut  dipicu oleh langkah Cina yang memutuskan untuk mengurangi  produksinya. 

“Harga baja dunia sedang naik, pertama karena ore baja sedang naik. Kedua, karena Cina sedang mengurangi pasokan baja di negaranya,” kata Agus dalam konferensi pers Keterangan RAPBN 2022, di Jakarta, Senin (16/8).

Harga bijih baja pada akhir Juli 2021 berada di kisaran US$214/ton, jauh lebih tinggi dibandingkan periode Juli 2020 sekitar US$104/ton.  Cina merupakan produser baja terbesar di dunia dan negara tersebut memproduksi  baja sebanyak 271 juta ton baja pada kuartal I/2021. Cina memutuskan untuk mengurangi produksi baja sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon.

Agus mengklaim bahwa, saat ini impor baja nasional cukup terkendali secara pasokan dan permintaan. Indonesia telah mampu menekan impor baja sebesar 35% tahun lalu dengan melakukan pendekatan smart supply and demand, yakni dengan mengatur supply and demand secara terstruktur dan sesuai dengan kapasitas industri nasional.

Ia menjelaskan, neraca perdagangan baja pada Semester I 2021 mengalami surplus sebesar US$ 2,7 miliar dengan nilai ekspor US$ 9,4 miliar dan impor US$ 6,7 miliar. Agus menyebut, produksi baja dalam negeri tumbuh meningkat, Rata-rata utilisasi industri baja nasional sebesar 60% dan  industri baja lapis seng (Bj.LS) di atas 80%.

Oleh karena itu, Kemenperin terus berupaya untuk memperkuat industri baja nasional. Oleh karena itu, melakukan pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk baja.

“Baja ini merupakan sektor yang sangat penting yang akan terus kami bina. Beberapa langkah ke depan yang akan kami lakukan tentu bekerja sama dengan kementerian lain untuk memperketat komitmen kita terhadap TKDN khususnya untuk infrastruktur,” katanya.

Ia menambahkan, untuk memperkuat substitusi impor baja, Indonesia membutuhkan lima smelter baru untuk pengolahan iron ore menjadi slab, bloom dan billet. Substitusi impor ini sesuai dengan baseline program Kemenperin untuk mengurangi nilai impor sebesar 35% pada tahun 2022.

 Langkah ini diambil guna meningkatkan produktivitas dan daya saing industri di tanah air sehingga mendorong upaya pemulihan ekonomi nasional.

Selain itu, Kemenperin sudah menerbitkan 28 SNI wajib di sektor industri baja. Agus berharap, penerbitan SNI dapat memberikan perlindungan terhadap industri baja nasional, sehingga mampu memberikan pengawasan dan keselamatan di pasar.

Industri baja merupakan salah satu pilar industri yang sangat penting untuk mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dalam pidatonya pada Sidang Tahunan DPR/MPR/DPD, Senin (16/8), secara khusus menggarisbawahi perlunya Indonesia untuk memiliki industri berat, seperti baja.

"Karena sebagai negara yang besar dan tangguh, kita mutlak memiliki heavy industries di sektor-sektor strategis, terutama untuk mewujudkan kemandirian pangan," tutur Puan.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait