Koperasi Subang Ekspor Kopi Arabika ke Arab Saudi

Ekspor pertama ke Arab Saudi bernilai US$48.320 atau setara Rp 2,1 miliar. Total ekspor kopi yang ditargetkan adalah 150 ton.
Image title
19 September 2021, 18:59
ekspor, kopi, Arab Saudi
LPEI
Petani Kopi Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL) Kabupaten Subang, Jawa Barat,

Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL) Kabupaten Subang, Jawa Barat, melakukan ekspor perdana kopi Arabika ke Arab Saudi sebanyak 18 ton. Ekspor perdana ini merupakan bagian dari total target 150 ton yang sudah ditetapkan.

Pengiriman pertama yang dilakukan pada Minggu (19/9) bernilai US$48.320 atau setara Rp 2,1 miliar. Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL) Kabupaten Subang merupakan Desa Devisa binaan program Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

"Kami sangat bahagia karena karena pada akhirnya kami berhasil melakukan ekspor perdana ke Arab Saudi. Berkat pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh LPEI dan tentunya kerja keras para petani, kami dapat memenuhi permintaan dari Arab Saudi. Kami berharap ini hanya awal dari ekspor-ekspor yang berikutnya," ujar Ketua Koperasi GLB, Miftahudin Shaf, dalam siaran persnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-Arab Saudi mencapai US$3,95 miliar pada 2020 di mana ekspor Indonesia menembus US$1,34 miliar.  Pada periode Januari-Juli 2021, ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai US$842,84 juta, atau naik 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah Indonesia pada tahun 2020 mencapai US$1,72 miliar. Angka tersebut naik 1,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yakni US$1,61 miliar.

Di pertengahan bulan Juli, LPEI meluncurkan Desa Devisa Kopi di Subang bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB). Desa Devisa ini menjadi desa ketiga yang telah diluncurkan LPEI sejak tahun 2019.

Produk kopi dengan varietas arabika (java preanger) dan robusta dengan cita rasa tersendiri yang berasal dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut menjadi keunikan dari Desa Devisa Kopi Subang ini.

Sebelumnya, LPEI telah berhasil membentuk dua Desa Devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi dan Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan yang telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan ke Eropa.

“Sejak awal kami optimis dengan potensi Subang dengan komoditas kopinya dikombinasikan dengan pelatihan yang kami berikan kepada para petani,” ucap Direktur Eksekutif LPEI, James Rompas.

Rompas menambahkan, upaya mendorong kegiatan ekspor akan dilakukan secara berkelanjutan. Kerja sama yang baik antara Koperasi GBL, Pemerintah Kabupaten Subang, serta LPEI dalam menjalankan program Desa Devisa menjadi modal untuk rencana dan target ekspor-ekspor selanjutnya.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, turut meramaikan acara pelepasan ekspor kopi perdana tersebut.

“Kita bersama pemerintah daerah akan mendorong koperasi pangan yang potensial untuk diperbesar kapasitas usaha dan pembiayaan ekspornya dengan menjalin kerja sama dengan LPEI dan perbankan lainnya,” ujar Teten .
(Akbar Malik Adi Nugaraha)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait