Sandiaga Uno Tegaskan Sertifikasi CHSE Bersifat Sukarela, Tidak Wajib

CHSE menjadi gold standard dan memberikan jaminan pada masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan telah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.
Image title
4 Oktober 2021, 17:53
chse, sandiaga uno, wisata, pariwisata
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
Pekerja mengenakan alat pelindung diri saat berada di lokasi usaha pariwisata yang tersertifikasi Cleanliness, Health, Safety, Environmental sustainability (CHSE) di Avani Seminyak Bali Resort, Badung, Bali, Sabtu (25/9/2021). Hingga saat ini, sebanyak 696 pelaku usaha pariwisata di Bali telah tersertifikasi CHSE yang diaudit oleh PT Sucofindo (Persero) dan konsorsiumnya selama tahun 2021. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menegaskan bahwa sertifikasi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) bukan sebuah mandatori atau kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kita yakinkan bahwa tidak ada arahan bahwa sertifikasi CHSE itu mandatori. CHSE itu sifatnya voluntary atau sukarela sesuai dengan inisiatif dari penyelenggara pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Sandiaga dalam konferensi pers virtual, Senin (4/10).

Sandiaga menyebut, sertifikasi CHSE akan menjadi gold standard yang berfungsi untuk memberikan jaminan pada masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan telah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

 Sampai dengan akhir minggu ketiga bulan September lalu, Kemenparekraf sudah menerbitkan kurang lebih 10 ribu sertifikasi CHSE bagi para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia berharap akan semakin banyak pelaku industri yang mendaftar untuk mendapat sertifikasi tersebut.

“Kita pastikan standar CHSE ini akan menjadi gold standard yang sama-sama kita adopsi. Baik pemerintah maupun industri, sehingga pariwisata akan semakin berkelanjutan,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI Jakarta Sutrisno Iwantono mengatakan bahwa kewajiban sertifikasi CHSE bersifat kontra produktif dengan upaya mereka untuk bangkit.

Sutrisno menyebut pelaku industri harus mengeluarkan biaya untuk mendapat sertifikasi CHSE. 

Menurutnya, sertifikasi CHSE akan memberatkan pengelola usaha pariwisata karena biaya sertifikasinya tidak murah.

 Dengan asumsi sertifikasi di kisaran Rp 10 juta untuk hotel dan terdapat 29,243 hotel di Indonesia maka total pengeluaran sertifikasi mencapai Rp 292 miliar per tahun.

Subsidi pemerintah akan lebih berguna jika dialokasikan untuk memberikan potongan harga hotel daripada dihabiskan untuk subsidi sertifikasi CHSE. Ia mengatakan CHSE hanyalah marketing gimmick dan tidak mampu menjadi daya tarik pengunjung hotel.

"Subsidi harga lebih bisa dinikmati konsumen. Kalau ada potongan harga, itu menarik pengunjung dan hotel pun dapat tamu. Dua-duanya untung. Kalau sertifikat CHSE itu duitnya ke surveyor. Hotel tidak dapat untung, pengunjung juga,"tutur Sutrisno Iwantono, saat dihubungi Katadata.co.id, Selasa (28/9) lalu.

 Adapun, usaha pariwsisata yang memerlukan sertifikasi CHSE di antaranya usaha kawasan pariwisata, usaha jasa transportasi wisata, usaha hotel, homestay/pondok wisata, restoran, rumah makan, dan MICE (meetings, incentives, conferences and exhibitions).

Pelaksanaan sertifikasi dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi yang menunjuk dan menugaskan tim auditor. Sertifkasi CHSE rencananya akan dijadikan kewajiban bagi mereka yang bergerak di bidang pariwisata.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendapat dampak paling berat dari pandemi Covid-19. Pembatasan mobiltas masyarakat, kebijakan lockdown di beberapa negara, serta melemahnya pertumbuhan ekonomi membuat sektor pariwisata harus berjuang keras bangkit setelah pandemi.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait