PPKM Makin Longgar, Pembukaan Wahana Bermain Kian Hidupkan Bisnis Mal

Aktivitas pusat perbelanjaan pada kuartal tiga tahun ini masih akan terbatas.Pasalnya, penyewa baru membuka toko setelah pusat perbelanjaan diizinkan beroperasi kembali setelah pelonggaran PPKM.
Image title
19 Oktober 2021, 15:47
PPKM, mal, anak, mal dan pusat perbelanjaan
ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/aww.
Anak-anak menggunakan masker saat bermain di salah satu wahana permainan pusat perbelanjaan di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (15/10/2021). Wahana permainan anak pada sejumlah pusat perbelanjaan di daerah tersebut kembali

Pemerintah memberikan sejumlah pelonggaran aktivitas selama perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali. Salah satunya adalah tempat bermain anak di mal dan pusat perbelanjaan yang berada di wilayah PPKM Level 2 dan 1 sudah diizinkan untuk kembali beroperasi.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja optimistis kebijakan ini akan mengerek tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan hingga mencapai 50%.

"Tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan diperkirakan naik secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan. Diharapkan bisa mencapai rata-rata 50% sampai dengan akhir 2021 nanti," ujar Alphonzus kepada Katadata, Selasa (19/10).

Saat ini jumlah pengunjung pusat perbelanjaan masih di angka 35 - 40%. Angka tersebut masih stagnan akibat belum dibukanya kembali tempat bermain anak yang ada di pusat perbelanjaan pada perpanjangan PPKM sebelumnya.

 Ia menyebut, kontribusi pengunjung masih didominasi oleh pengunjung yang datang ke restoran dan tenant makanan dan minuman.

Sedangkan, kontribusi pengunjung dari salah satu kategori, yakni bioskop masih relatif sedikit. Ia membeberkan bioskop hanya memberi sumbangsih sebesar 5% dari total pengunjung.

Sementara itu, Perusahaan konsultan Jones Lang LaSalle (JLL) memproyeksikan aktivitas pusat perbelanjaan pada kuartal tiga tahun ini masih akan terbatas.

Pasalnya, penyewa baru membuka toko setelah pusat perbelanjaan diizinkan beroperasi kembali.

Head of Research JLL Yunus Karim mengatakan penyewaan toko di pusat perbelanjaan masih didominasi oleh sektor tertentu. Ia menambahkan, tingkat hunian pusat perbelanjaan relatif stabil di angka 87%.

 "Aktivitas ini terutama didorong oleh penyewa makanan dan minuman, diikuti oleh peritel peralatan rumah tangga," ujar Yunus dalam keterangan resmi yang diterima Katadata, Selasa (19/10).

Sebagaimana diketahui, dalam perpanjangan PPKM di Jawa dan Bali hingga 1 November mendatang, pemerintah mengizinkan tempat bermain anak yang berada di pusat perbelanjaan di wilayah PPKM level 2 untuk kembali beroperasi.

 Syaratnya adalah tempat tersebut harus mencantumkan nomor telepon, alamat orang tua, serta waktu bermain untuk keperluan penelusuran kontak positif.

Selain itu, anak-anak juga sudah diperbolehkan masuk bioskop, seiring dengan bertambahnya kapasitas bioskop dari yang sebelumnya 50% menjadi 70% untuk bioskop di kota dan kabupaten PPKM Level 2 dan 1. 

Kemudian, pengunjung restoran, rumah makan, dan kafe dalam area bioskop diizinkan makan di tempat dengan kapasitas maksimal 50% dan waktu makan maksimal 60 menit.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan aktivitas mobilitas masyarakat sepanjang September semakin longgar.

Di beberapa tempat mobilitas masyarakat meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Mobilitas ini berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, termasuk data-data ekonom yang akan dirilis BPS hari ini maupun data ekonomi lainya," kata Ketua BPS Margo Yuwono dalam Konferensi Pers virtual, Jumat (1/10).

BPS mencatat mobilitas masyarakat di tempat perdagangan retail dan rekreasi turun 2,7%, kendati demikian angkanya lebih kecil dibandingkan kontraksi bulan lalu 12,4%.

Hal ini menunjukkan ada perbaikan mobilitas di tempat perdagangan ritel. "Angka penurunan ini lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi yakni Januari-Februari 2020," kata Margo.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait