Korban Tewas Kecelakaan Jalan Raya 2-3 Orang per Jam, Kerugian Rp478 T

Data menunjukan 61% kecelakaan terjadi karena faktor manusia, 30% karena faktor sarana prasarana dan 9% lainnya dikarenakan faktor pemenuhan persyaratan laik jalan.
Image title
21 Oktober 2021, 19:06
kecelakaan, kecelakaan jalan, jalan
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.
Kondisi sebuah mobil travel yang mengalami kecelakaan di kilometer 134 Jalan Tol Purbaleunyi di Pasir Koja, Bandung, Jawa Barat, Minggu (3/10/2021). Kecelakaan yang melibatkan sebuah truk pengangkut tiang bor, sebuah travel dan sebuah mobil keluarga tersebut masih dalam penyelidikan petugas. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.

Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di jalanan Indonesia  mencapai 2-3 orang per jamnya. Banyaknya korban jiwa juga berdampak besar terhadap kerugian ekonomi yang ditimbulkannya, yakni sekitar Rp478  triliun.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, kerugian ekonomi nasional akibat kecelakaan lalu lintas diperkirakan mencapai 2,9 hingga 3,1% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. 

"Pada tahun 2020 setara dengan Rp 440 triliun sampai Rp 478 triliun dengan total PDB sebanyak Rp 15.434 triliun," kata Budi dalam sebuah webinar, Kamis (21/10).

Dibandingkan dengan Eropa dan Amerika yang grafik fatalitasnya menurun, Indonesia justru mengalami peningkatan. 

Advertisement

 Data juga menunjukan 61% kecelakaan terjadi karena faktor manusia, 30% karena faktor sarana prasarana dan 9% lainnya dikarenakan faktor pemenuhan persyaratan laik jalan.

Untuk menekan angka korban kecelakaan,  pihaknya akan terus melaksanakan sejumlah program dan kebijakan, terutama untuk mewujudkan lima pilar keselamatan.

Lima pilar tersebut adalah manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan pra dan pasca kecelakaan.

Jalan disebut berkeselamatan jika memenuhi tiga kriteria yaitu, regulating root atau jalan yang memenuhi standar geometrik jalan berdasarkan regulasi yang ada.

Juga, self explaining root atau jalan yang bisa menjelaskan kondisinya yaitu jalan yang memiliki fasilitas perlengkapan jalan yang tepat dan cukup.

"Kemudian forgiving root atau jalan yang memaafkan, yaitu jika kecelakaan tidak dapat terhindarkan lagi maka jalan juga dilengkapi dengan fasilitas pengaman berupa pagar pengaman jalan, jalur penyelamat dan lain sebagainya," ujar mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II tersebut.

 Sejumlah kecelakaan lalu lintas besar pernah terjadi di Indonesia dengan penyebab yang berbeda. Tabrakan maut di Tol Cipali pada September 2019 yang menewaskan delapan orang, misalnya, terjadi karena truk ODOL (over dimension dan over loading),.

Kejadian pecah ban juga pernah menyebabkan tabrakan beruntun di Tol Ciplai pada Maret 2014. Rem blong pernah membuat kecelakaan hebat di Subang pada Februari 2018.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono  mengatakan,  data Global Status Report on Road Safety yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2018 terkait keselamatan jalan dan kecelakaan lalu-lintas menunjukan perbaikan.

Secara nasional Indonesia menempati posisi lima terbaik di antara negara-negara Asia dengan nilai indeks fatalitas 2,47.

Tren kecelakaan lalu lintas  pada tahun 2019 dan 2020 menunjukan penurunan fatalitas. Penurunan tersebut disebabkan karena adanya pembatasan mobilitas selama masa pandemi. 

"Sehingga kita tidak boleh lengah dan berpuas diri dengan pencapaian tersebut," katanya.

 Meski demikian, Basuki juga menyoroti masih banyaknya kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kelalaian pengemudi ketika berkendara.

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh isu kecepatan yang terkadang melebihi standar.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan usia korban kecelakaan lalu lintas pada periode 2016-2020 ada di rentang usia 15-24 tahun atau usia produktif, yakni sekitar 18-26% dari total korban.

Angka kecelakaan lalu lintas berdasarkan usia terbanyak pada usia 20-24 tahun dan peringkat kedua pada usia 15-19 tahun.

Karena itulah, menurutnya, pemerintah harus fokus memperhatikan cara-cara menguranginya di kalangan kelompok usia poduktif ini.

Pasalnya, usia produktif berperan besar dalam menggerakan ekonomi.

 Pemerintah Targetkan Penambahan Ruas Jalan Tol Sepanjang 2.500 km pada 2024

Lebih lanjut, Basuki menyampaikan bahwa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, ditargetkan akan ada tambahan 2.500 km jalan tol baru yang dapat beroperasi.

Penambahan jalan tol akan dibarengi dengan program peningkatan kinerja pelayanan jalan nasional, di mana salah satu indeks kinerja programnya adalah semakin membaiknya rating keselamatan jalan.

Tahun 2020-2024 menandai tahapan ke-empat dalam evolusi pengembangan jalan tol di Indonesia.

Di mana periode pertama berlangsung pada 1978 sampai 2004, yang dikatakan sebagai periode inisiasi jalan tol dengan dibangunnya tol Jakarta–Bogor–Ciawi (Jagorawi).

Kemudian, periode ke-dua yakni tahun 2004 sampai 2014, merupakan periode konsolidasi regulasi dan kelembagaan.

Selanjutnya, pada periode ketiga yakni 2014 sampai 2019, merupakan periode akselerasi yang ditandai dengan selesainya Tol Trans-Jawa dari Banten ke Probolinggo.

"Terakhir, periode 2019-2024 nanti adalah periode transformasi, inovasi dan modernisasi (TIM)," ujar dia.

Selain itu, pada 2030 pemerintah menargetkan kondisi jalan di Indonesia 99% dalam kondisi sangat baik dan terintegrasi antarmoda, dengan memanfaatkan sebanyak-banyaknya material lokal, serta menggunakan teknologi recycle.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait