Investasi Rp142 Triliun Menunggu Tanda tangan Jokowi di Abu Dhabi

Jokowi akan menyaksikan dan menandatangani kerja sama investasi Indonesia dan UEA di sejumlah sektor, seperti energi, infrastruktur, kesehatan, pariwisata, serta telekomunikasi.
Image title
25 Oktober 2021, 14:50
Jokowi, Abu Dhabi, UEA, investasi, Dubai
BPMI Setpres
Disaksikan Pangeran Sheikh Mohammed Bin Zayed, Presiden Jokowi mengisi buku tamu saat tiba di Istana Qasr Al Watan, Abu Dhabi, UEA, Minggu (12/1) petang waktu setempat.

Kerja sama investasi senilai US$10 miliar atu Rp 142 triliun antara perusahaan Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) akan ditandatangani saat Presiden Joko Widodo, atau Jokowi, mengunjungi UEA, pada 3-4 November mendatang.

Presiden Jokowi dijadwalkan akan mengunjungi Abu Dhabi untuk menyaksikan penandatangan MoU investasi serta berkunjung ke paviliun Indonesia di Dubai Expo 2021.

Duta Besar RI Untuk Persatuan Emirat Arab Husin Bagis mengatakan setidaknya memorandum of understanding (MoU) kerja sama investasi senilai US$10 miliar atau Rp142 triliun sudah diamankan perwakilan RI di UEA.

"Angkanya bisa berubah US$7-12 miliar (Rp99,4-170,4 triliun) sampai Pak Jokowi datang, ini masih terus berproses,"tutur Husin, kepada Katadata, akhir pekan lalu.

 Kerja sama investasi akan meliputi sejumlah sektor, mulai dari infrastruktur baik pelabuhan laut ataupun udara, energi, energi terbarukan, kesehatan, telekomunikasi, start up, serta pariwisata.

Husin menjelaskan beberapa perusahaan Uni Emirat Arab yang siap menandatangani kerja sama investasi adalah DP World yang merupakan perusahaan multinasional di bidang logistik dan Masdar yang merupakan perusahaan di bidang energi terbarukan.

Perusahaan lainnya adalah Mubadala Investment Company PJSC, BUMN yang bergerak di bidang penanganan investasi dana abadi atau sovereign wealth fund serta terdapat juga perusahaan Murban Energy.

Terdapat juga Abu dhabi Holding dan Dnata atau Dubai National Air Travel Agency yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia dalam bidang layanan jasa transportasi udara.

Seperti diketahui, pekan lalu, perusahaan investasi asal UEA, Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) menandatangani kesepakatan investasi dengan perusahaan teknologi Tanah Air, GoTo Group.

Investasi di perusahaan digital bukan yang pertama buat ADIA. Perusahaan ini pernah menyasar startup komputasi awan (cloud) hingga teknologi finansial (fintech).

ADIA merupakan lembaga pengelola dana investasi atau sovereign weath fund (SWF) global milik pemerintah UEA.
ADIA yang berdiri pada 1976 bertugas menginvestasikan dana atas nama pemerintah UEA melalui strategi yang berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang.

Perusahaan berinvestasi di perusahaan teknologi asal Indonesia GoTo Group. ADIA menyuntikkan dana sebesar US$ 400 juta atau lebih Rp 5,7 triliun kepada GoTo.

 Husin mengatakan salah satu investasi UEA terbesar adalah di sektor pariwisata di Aceh.

Seperti diketahui, UEA sudah melayangkan ketertarikannya untuk berinvestasi sebesar US$500-700 juta atau sekitar Rp 10 triliun untuk mengembangkan wisata di Pulau Banyak, gugusan pulau-pulau kecil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil.

Termasuk di dalamnya adalah dengan membangun resort mewah di kawasan tersebut.

Rencana investasi Uni Emirat Arab di Pulau Banyak, Aceh, sudah digagas tahun lalu.

Gagasan ini bermula saat Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA Mohamed bin Zayed di Uni Emirat Arab, Januari 2020.

pulau banyak
Pulau Banyak (pesona_pulaubanyak/instagram)




Husin menjelaskan salah satu alasan UEA tertarik berinvestasi di Aceh adalah karena jarak Abu Dhabi dan Aceh yang relatif dekat, bisa ditempuh dalam 5,5 jam perjalanan udara.

"Mereka juga ada experience mengembangkan Maldives. Jadi nanti dicopy paste lah Maldves di Aceh. Proyek ini sangat besar cakupannya sehingga tidak bisa serta merta dilakukan segera,"tuturnya

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, pekan lalu, mengatakan kerja sama Indonesia-UAE tidak hanya akan melibatkan perusahaan besar tetapi juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 Mantan Wakil Menteri Perdaganagn tersebut mengatakan pihaknya sudah bertemu dengan salah satu perusahaan ritel terbesar di UEA, Lulu Group International. Dalam pembicaraan tersebut, Mahendra meminta Lulu Group bermitra dengan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

Lulu Grup diharapkan bisa memfasilitasi dan menjadikan UMKM Indonesia sebagai bagian dari rantai pasoknya untuk kemudian menjadi eksportir ke negara Timur Tengah dan sejumlah kawasan lain lainnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait