Pertama kali dalam Sejarah, Nilai Dagang RI-Cina Bisa Capai US$100 M

Nilai dagang Indonesia dan Cina mencapai US$85 miliar pada Januari-September.
Image title
25 Oktober 2021, 20:01
Cina, dagang, perdagangan, ekspor
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Kapal tunda bersandar di terminal penumpang dengan latar belakang deretan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (17/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada bulan September mencapai 20,60 miliar dolar Amerika, atau meningkat 47,64 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

Nilai perdagangan Indonesia dan Cina diyakini akan menembus US$100 miliar, atau sekitar Rp1.420 triliun pada tahun ini. Angka ini merupakan yang terbesar dalam sejarah perdagangan kedua negara.

Duta Besar RI untuk Cina Djauhari Oratmangun mengatakan nilai perdagangan Indonesia dan Cina pada periode Januari-September 2021 mencapai US$85,3 miliar.

"Nilai ekspor kita naik 59% (Januari-September) dengan total nilai US42,8 miliar. Saya optimis, nilai perdagangan akan menembus US$100 miliar karena ini tinggal tiga bulan dan sudah menyentuh US$85 miliar," tutur Djauhari, dalam webinar Economic Forecast and Business Opportunities in China 2021-2022, Senin (25/10).

Cina adalah mitra dagang terbesar Indonesia selama bertahun-tahun. Kendati demikian, Indonesia selalu membukukan defisit dengan Negara Tirai Bambu tersebut

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan antara Cina dan Indonesia mencapai US$71,42 miliar pada 2020, dengan ekspor mencapai US31,78 miliar.

Pada tahun 2019, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$72,90 miliar dengan ekspor mencapai US$27,96 miliar.

Bagi Cina, Indoesia adalah mitra dagang terbesar ke-13 dari seluruh negara di dunia serta terbesar ke-4 di ASEAN.

Komoditas andalan ekspor Indonesia ke Cina adalah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Di luar komoditas tradisional seperti lemak dan minyak hewan/nabati yang didominasi CPO, batu bara, bahan kimia, besi dan baja, bijih tembaga, serta ferro nikel.

Di luar komoditas tradisional tersebut, terdapat beberapa komoditas yang mengalami lonjakan permintaan dari Cina seperti sarang burung, makanan, dan minuman. Termasuk dalam hal ini adalah kopi.

"Eksport kopi ke Cina naik signifikan pada periode Januari-Agustus tahun ini dibandingkan tahun lalu. Kenaikannya 35%,"tutur Djauhari.

Sebaliknya, impor terbesar dari Cina meliputi barang elektronik, kimia organik, mesin, dan plastik.

Kendati banyak peluang di ekspor makanan dan minuman, peningkatan ekspor untuk komoditas tersebut juga terdapat hambatan besar terutama dalam hal regulasi.

Karantina produk makanan, terutama untuk seafood sangat ketat sehingga menghambat kenaikan ekspor.

"Butuh waktu bertahun-tahun untuk memasukan satu produk sea food ke China," tutur Djauhari.

Executive Secretary-General of China-ASEAN Business Council (CABC), Jennifer Liu, mengatakan Indonesia dan Cina diyakini akan terus meningkat dalam beberapa ke depan.

Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi Cina yang  tinggi akan membutuhkan pasokan dari negara lain untuk berkembang.
Karena itulah, dia berharap Indonesia akan meningkatkan hubungan yang saling menguntungkan ke depan, termasuk dalam perdagangan.

Sebagai catatan, Indonesia dan Cina memiliki perjanjian dagang di bawah  payung  ASEAN–China FTA (ACFTA) yang berlaku sejak Januari 2010.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait