Vaksinasi Rendah, Hong Kong Baru Buka Perbatasan Pertengahan 2022

Tingkat vaksinasi Covid-19 di Hong Kong rendah karena keraguan masyarakat dalam menerima vaksin dan ketakutan atas efek samping berbahaya.
Image title
10 November 2021, 11:42
vaksinasi, Hong Kong, covid-19
ANTARA FOTO/REUTERS/Tyrone Siu/rwa/cf
Tyrone Siu Tenaga kesehatan terlihat memakai alat pelindung (APD) di dalam bagian wilayah pemukiman yang di'kunci untuk membatasi penyebaran baru penyakit virus korona (COVID-19), di Hong Kong, China, Sabtu (23/1/2021).

Hong Kong belum akan membuka perbatasan negaranya untuk perjalanan internasional hingga pertengahan 2022 mendatang. Pemerintah setempat mengaku ingin terlebih dahulu menyelesaikan perjanjian perbatasan dengan Cina dan di waktu bersamaan juga mendorong laju vaksinasi Covid-19.

Anggota dewan eksekutif penasihat untuk pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan, bahwa semua proses tersebut membutuhkan waktu setidaknya enam bulan ke depan.

"Kami memerlukan waktu sekitar setengah tahun untuk mencapai rata-rata vaksinasi yang mencukupi, terutama di kalangan orang lanjut usia," kata Carrie Lam dikutip dari Aljazeera, Rabu (10/11).

Meski telah menyediakan cukup dosis vaksin Covid-19, Hong Kong masih kesulitan untuk memvaksinasi penduduknya yang berjumlah total 7,4 juta jiwa.

Rendahnya laju vaksinasi Covid-19 di Hong Kong diakibatkan beberapa faktor, termasuk keraguan masyarakat dalam menerima vaksin dan ketakutan atas efek samping berbahaya.

Carrie Lam menyebut, saat ini baru 17% dari total warga Hong Kong berusia 80 tahun ke atas yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19.

Sementara untuk masyarakat Hong Kong di bawah usia 80 tahun, angkanya sudah mencapai 69%.

Upaya pemerintah Hong Kong dalam menghadirkan situs vaksinasi Covid-19 di pusat perbelenjaan dan area perumahan belum mampu mendorong laju vaksinasi, terutama di kalangan lansia.

 Saat negara-negara lain mulai membuka perbatasannya untuk pelaku perjalanan internasional, Hong Kong dan Cina masih berupaya keras untuk tetap menerapkan strategi ‘nol kasus Covid-19’ atau zero Covid.

Kedua negara tersebut bertekad menghapus sepenuhnya kasus penularan harian Covid-19, yang dianggap sejumlah negara sebagai sesuatu yang mustahil.

Namun, strategi tersebut tidak dapat sepenuhnya menghilangkan penularan virus corona di Cina.

Saat ini, negara tersebut sedang berjuang untuk menekan gelombang keempat akibat varian delta yang lebih menular dalam lima bulan terakhir.

Sementara itu, strategi zero covid tersebut telah menyebabkan meningkatnya frustrasi bagi perusahaan internasional dan penduduk yang menghadapi karantina wajib di hotel selama 21 hari.

Asosiasi Kamar Bisnis Asing telah memperingatkan pemerintah setempat bahwa aturan karantina tersebut berisiko merusak reputasi Hong Kong sebagai pusat keuangan global.

 Pada Selasa (9/11), pemimpin Hong Carrie Lam menegaskan bahwa membuka perbatasan dengan Cina tetap menjadi prioritas, daripada meliberalisasi perjalanan dengan seluruh dunia.

Dia mengatakan para pejabat Hong Kong akan segera bertemu dengan otoritas daratan lagi untuk membahas pembukaan kembali perbatasan secara resmi. 

Lam mengatakan, mereka belum mengetahui berapa banyak kasus virus Covid-19 yang akan memicu rencana pembukaan kembali ditangguhkan.

Namun, dia menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin ambang batas menjadi terlalu ketat.

“Kami membuat kemajuan yang baik,” ujar Lam.


Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait