Dikritik Ahok, Apa Alasan IBC Rencana Beli Mobil Listrik Jerman?

IBC sedang menjajaki kemungkinan untuk mendapatkan mitra dari dalam ataupun luar negeri untuk mendukung akselerasi penggunaan mobil listrik di Indonesia. Ini respons IBC atas pendapat Ahok.
Image title
26 November 2021, 08:18
Ahok, mobil listrik, kendaraan listrik
ANTARA FOTO/Hiro
Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok menjawab pertanyaan wartawan saat tiba di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok  mengkritik keras  rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membeli perusahan mobil listrik Jerman. Namun, IBC mengatakan mereka akan tetap mencari mitra strategis baik dalam atau luar negeri untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.

Ahok merupakan komisaris Utama PT Pertamina dan perusahan pelat merah tersebut memiliki saham 25 % di IBC. Sebelumnya, Ahok mengatakan pembelian perusahaan mobil listrik Jerman StreetScooter tidak layak karena hasil due diligence yang dilakukan mengatakan akusisi tidak cocok.

Menanggapi pendapat Ahok, Corporate Secretary IBC Muhammad Sabik mengatakan IBC menghormati pendapat siapapun terkait rencana bisnis IBC.

"IBC sangat menghormati pendapat, arahan, saran dan masukan bahkan kritik dari pihak manapun termasuk dari Pak BTP (Ahok) selaku Komisaris Utama Pertamina sebagai salah satu pemegang saham IBC," tutur Sabik, kepada Katadata, Jumat (26/11).

Advertisement

Sabik menambahkan IBC tengah melakukan kajian dan evaluasi secara menyeluruh terhadap seluruh aspek rencana tersebut. Sesuai Rencana Jangka Panjang Perseroan (RJPP), IBC akan melakukan pengembangan bisnis baik di Ekosistem EV Battery (EVB) maupun EV (Electric Vehicle).

Pengembangan Ekosistem kendaraan listrik  ini menjadi salah satu kunci untuk mendukung program percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia.

"Salah satu upaya yang dilakukan IBC dalam pengembangan industri EV adalah dengan mengembangkan portfolio bisnis untuk mendapatkan know-how dan knowledge transfer serta mitra strategis yang memiliki kompetensi dalam pengembangan EV," tutur Sabik.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, IBC sampai saat ini sedang menjajaki kemungkinan untuk mendapatkan mitra yang dapat mendukung upaya IBC dalam mengakselerasi penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. "Mitra strategis tersebut tentu bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri," kata Sabik.

Sebagai informasi,  rencana anak usaha PT Pertamina, Pertamina Power Indonesia (PPI), mengakuisisi pabrik mobil listrik asal Jerman mendapat kritikan Ahok. Dia menilai akuisisi tersebut tidak memiliki basis valuasi yang kuat untuk direalisasikan.

Ahok menyarankan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik/Good Corporate Governance (GCG) dalam proses akuisisi. "Harus proper dan GCG juga untuk bangun ekosistem mobil listrik dan tahu partnermu," kata Ahok kepada Katadata.co.id, Rabu (24/11).

 Pertamina telah mengajukan proposal kepada Dewan Komisaris untuk akuisisi pabrik mobil listrik, StreetScooter.

"Narasinya apa? mesti beli mobil listrik di Jerman? supaya bisa masuk pasar Amerika, Cina, itu yang saya bilang hati-hati," ujarnya seperti dikutip dari channel Youtubenya.

Ahok menilai jika tujuan akuisisi tersebut untuk memperluas pasar di Amerika dan Cina, maka rencana tersebut sangat tak masuk akal.

Saat ini pasar di Amerika Serikat telah dikuasai Tesla. Sedangkan di Cina telah ada Wuling Motors.



News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait