Kota-kota di Cina Berlomba Tambah Cuti Melahirkan, di Beijing 158 Hari

Di Provinsi Zhejiang, ibu yang tengah mengandung anak kedua atau ketiga kini bisa mengambil cuti melahirkan selama 188 hari, atau lebih dari enam bulan.
Image title
27 November 2021, 19:04
Cina, cuti melahirkan
Pexels
Ilustrasi ibu dan anak yang berjalan di Tembok Cina

Pemerintah di sejumlah kota di Cina memutuskan untuk memperpanjang masa cuti hamil dan melahirkan sebanyak 30-60 hari. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan angka kelahiran di Negara Tirai Bambu yang semakin menurun.

Kebijakan ini juga diberlakukan untuk mendukung pelonggaran jumlah anggota keluarga di Cina.
Pada awal tahun ini, Cina mengizinkan warganya untuk memiliki anak sampai tiga, sebagai antisipasi meningkatnya angkatan kerja yang semakin menua.

Di sisi lain, jumlah kelahiran makin menurun. Tahun lalu, angka kelahiran di Cina dilaporkan berada di level 8,52 per 1.000 orang. Level ini adalah yang terendah sejak 1978.

Peraturan Cina menetapkan jumlah cuti melahirkan sebanyak 98 hari dengan rincian 15 hari sebelum melahirkan dan 83 hari pasca melahirkan.

Advertisement

 Namun, beberapa kota telah mengizinkan wanita untuk mengambil cuti melahirkan jauh di atas aturan nasional.

Beberapa kota sebelum ini sudah mengizinkan cuti melahirkan sebanyak 128 hari.  Di antaranya adalah Beijing, Shanghai, Jiangsu, Zhejiang, Hubei, Chongqing, dan Tianjin.

Sementara itu,  Hebei, Shanxi, Inner Mongolia, Liaoning, Jilin, Anhui, Jiangxi, Shandong, Hunan, Sichuan, Guizhou, Yunnan, Qinghai, Ningxia, Shaanxi, and Xinjiang sudah mengizinkan cuti selama 158 hari

Dilansir dari ChannelnewsAsia, pada Jumat (26/11), pemerintah kota Beijing mengumumkan akan menambah cuti hamil dan melahirkan sebanyak 30 hari.

Dengan demikian, wanita yang bekerja di kota tersebut bisa mengambil cuti hamil dan melahirkan sampai 158 hari atau hampir enam bulan. Mereka akan dibayar penuh selama cuti.

Cuti dengan bayaran penuh bisa diperpanjang jika sang ibu mengalami kesulitan atau komplikasi saat melahirkan.

 Kebijakan serupa sudah diberikan pemerintah Shanghai pada awal tahun ini.

Shanghai memberikan tambahan cuti  selama 30 hari bagi wanita pekerja akan melahirkan. 
Baik ayah dan ibu juga bisa menikmati cuti tambahan bernama cuti merawat anak selama lima hari  per tahun sampai anak mereka berusia tiga tahun.

Di  Provinsi Zhejiang, ibu yang tengah mengandung anak kedua atau ketiga kini bisa mengambil cuti melahirkan selama 188 hari, atau lebih dari enam bulan.

Pemerintahan Jiangxi memberikan tambahan 15 hari untuk cuti pernikahan, 30 hari untuk cuti melahirkan, dan 15 hari untuk cuti ayah. Sebelumnya, cuti hamil dan melahirkan di provinsi tersebut adalah 158 hari.

Orang tua yang mempunyai anak di bawah tiga tahun juga bisa menikmati 10 hari cuti untuk merawat anak mereka tiap tahunnya.

Kebijakan sama diberikan kepada pemerintah Kota Guizhou dan Sichuan.

Dilansir dari Shanghai Daily,  Pemerintah Heilongjiang tengah merancang kebijakan untuk memberikan orang tua cuti merawat anak selama 10 hari tiap tahunnya bagi mereka yang punya anak di bawah tiga tahun.

Provinsi Jiangsu juga menambah cuti melahirkan selama 30 hari dari yang ditetapkan sekarang sebanyak 128 hari serta memberikan cuti ayah selama 15 hari.

 Sementara itu,  Provinsi Shanxi mengizinkan orang tua untuk mengambil cuti merawat anak, sebanyak 15 hari bagi yang memiliki anak di bawah tiga tahun.

Pemberi kerja di provinsi tersebut diminta membayar biata perawatan anak dan pendidikan bulanan setidakna 200 yuan atau Rp 450 ribu kepada orang tuayang memiliki anak di bawah tiga tahun

Provinsi Anhui yang terletak di timur Cina memberikan tambahan 10 hari untuk cuti pernikahan. Mereka juga akan memberikan izin cuti merawat anak selama 10 hari tiap tahun kepada orang tua sampai anak mereka berusia enam tahun.

 Provinsi Guangdong  mengizinkan seorang ibu yang habis melahirkan anak ketiga untuk menikmati  tambahan cuti hamil dan melahirkan selama 80 hari sementara sang ayah diberi cuti selama 15 hari.
Dengan demikian, ibu bisa menikmati cuti sampai enam bulan.

Namun, kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru. Banyak dari warga Cina yang menilai kebijakan tersebut bisa membuat perusahaan enggan mempekerjakan wanita.  Hal ini bisa meningkatkan angka pengangguran di kalangan wanita Cina.

Pertanyaan lain adalah mengenai keputusan pemerintah Cina yang tidak menambah cuti ayah dari yang ditetapkan selama ini yakni 15 hari.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait