Pesan Gibran Ke UMKM yang Mau Ekspor: Perbaiki Kemasan, Naikkan Harga

Gibran berharap para pelaku UMKM bisa naik kelas menjadi eksportir dengan mengembangkan kemasan (packaging), kualitas produk, dan branding agar sesuai dengan kualitas pasar global.
Image title
30 November 2021, 11:47
Gibran, UMKM, ekspor
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.
Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka (kiri) bersama Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati (kanan) menunjukan Nota Kesepahaman (MoU) Smart City di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/11/2021)

Pandemi Covid-19 memaksa para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk on boarding ke platform digital. Digitalisasi UMKM membawa banyak manfaat, di antaranya perluasan pasar dan dapat melahirkan UMKM baru berorientasi ekspor.

Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan, peluang ekspor produk UMKM Indonesia ke pasar global sangat besar.

Untuk menarik pasar ekspor, ia mendorong para pelaku UMKM untuk bisa naik kelas dengan mengembangkan kemasan (packaging), kualitas produk, dan branding agar sesuai dengan kualitas pasar global.

 Ia menyebut, para pelaku UMKM harus diberikan pelatihan dan pendampingan untuk memastikan produk yang dipasarkan dapat berdaya saing.

Advertisement

Selain itu, para pelaku UMKM juga diimbau untuk memastikan kemampuan dalam mengejar kuantitas produksi setelah berhasil menembus pasar global.

"Memang banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan, tapi yang jelas produk UMKM kita unik dan digemari pasar ekspor," kata Gibran dalam 'Regional Summit 2021: Go Global Melalui E-Commerce', Selasa (30/11).

Di samping itu, Gibran mendorong para pelaku UMKM untuk tidak takut memasarkan produk dengan harga tinggi.

Pasalnya,  jika kualitas produk yang dihasilkan sudah sangat baik tapi dipasarkan dengan harga rendah, akan membuat produk UMKM selalu dipandang sebelah mata.

 Ia menjelaskan, pihaknya selalu melakukan kurasi produk-produk UMKM yang ada di Kota Solo.

Produk tersebut memiliki ciri khas dengan kualitas terbaik, di antaranya tas kulit, kacamata kayu, jam tangan, dan wayang kulit untuk kemudian dipasarkan ke luar negeri dan mengikuti pameran dagang guna menggaet pembeli.

"Kita sebagai pemerintah daerah harus aktif mengkurasi produk-produk UMKM, karena banyak sekali yang bagus dan punya kualitas ekspor," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, tidak hanya digitalisasi UMKM yang dimasifkan, Gibran juga mendorong pedagang pasar tradisional untuk melakukan transaksi secara cashless atau non tunai.

Pada Jumat (26/11), Kota Solo mendapatkan penghargaan transaksi cashless di pasar tradisional terbanyak dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

 Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan dapat menciptakan sebanyak 1.500 UMKM eksportir setiap tahunnya.

Pemerintah terus mendorong dan mendukung pemanfaatan platform digital untuk meningkatkan penetrasi pasar produk-produk UMKM guna mendorong kinerja ekspor nasional.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag Kasan Muhri mengatakan, saat ini kontribusi UMKM terhadap total nilai ekspor non migas Indonesia masih sebesar 16%.

Jumlah tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Di mana kontribusi UMKM terhadap nilai  ekspor di negaranya mencapai di atas 20%.

"Jadi ada hal-hal yang harus diidentifikasi, yakni upaya meningkatkan peran UMKM terhadap ekspor, fasilitasi yang diberikan pemerintah, dan tentu saja kolaborasi dengan pelaku usaha digital jauh lebih penting," kata Kasan.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait