WNI di Afrika Selatan Belum Terinfeksi Omicron, Kasus Covid Afsel Naik

Afrika Selatan melaporkan tambahan kasus Covid-19 sebanyak 11.535 pada Kamis (2/12). Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan yang dilaporkan pada hari Rabu (1/12) yakni 8.561.
Image title
3 Desember 2021, 08:53
Afrika, Covid-19, Omicron
ANTARA FOTO/REUTERS/Sumaya Hisham/WSJ/cfo
Seorang tenaga kesehatan mengambil swab dari seorang penumpang untuk tes PCR penyakit virus korona (COVID-19) sebelum bepergian ke Uganda, di tengah penyebaran virus korona varian baru, Omicron, di Bandara Internasional O.R. Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu (28/11/2021).

Kasus baru Covid-19 di Afrika Selatan (Afsel) melonjak drastis di tengah merebaknya varian baru Omicron.  Menyusul merebaknya Omicron, perwakilan Indonesia di negara tersebut mengatakan, hingga kini, belum ada satupun warga negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan terinfeksi varian tersebut.

"Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada WNI yangg terlapor terpapar Omicron, mudah-mudahan tidak ada, WNI yang terlapor terpapar Omicron," kata Salman Al Farisi,  Duta Besar RI untuk Afrika Selatan merangkan Kerajaan Lesotho, Eswatini, dan Botswana, kepada Katadata, Kamis malam (2/12).

Setidaknya terdapat 250 WNI yang kini tinggal di Afrika Selatan. Kendati belum ditemukan kasus Omicron pada WNI, perwakilan Indonesia di sana menyiapkan sejumlah antisipasi.

Di antaranya dengan meneydiakan saluran telpon hotline untuk pengaduan ataupun permintaan bantuan.
"KBRI Pretoria telah menyampaikan himbauan untuk  selalu hati-hati dan disiplin dengan protokol kesehatan. Kami juga telah memberikan saluran telepon hotline sekiranya WNI memerlukan bantuan," tambah Salman.

Advertisement

 Kasus baru melonjak
Sementara itu, Afrika Selatan melaporkan tambahan kasus Covid-19 sebanyak 11.535 pada Kamis (2/12). Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan yang dilaporkan pada hari  Rabu (1/12) yakni 8.561.

Pada Selasa (30/11), Afrika Selatan melaporkan kasus sebanyak 4.373  per hari dan pada Senin (29/11) sebanyak 2.273.

Jumlah kasus kemarin juga naik empat kali lipat dibandingkan yang dilaporkan pada pertengahan November lalu yang berkisar 200-300 kasus.

Lonjakan kasus ini terjadi di tengah kekhawatiran dunia mengenai cepatnya penyebaran varian Omicron yang diketahui pertama kali di temukan di Benua Afrika.

Afrika Selatan merupakan salah satu episentrum penyebaran Omicron selain Botswana. Varian tersebut kini sudah ditemukan di lebih dari 24 negara.

India, Ghana, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab merupakan negara -negara yang baru saja melaporkan adanya kasus Omicron.

 Dilansir dari BBC, mikrobiologis National Institute for Communicable Diseases (NICD) Afrika Selatan Anne von Gottberg mengatakan orang yang pernah terpapar Covid-19 masih sangat mungkin terinfeksi Omicron.

Kendati demikian, vaksin yang ada sekarang diyakini masih bisa menahan laju penyebaran.

Dilansir dari the Guardian, tim ahli di Afrika Selatan melaporkan Omicron memiliki tingkat infeksi tiga kali lebih tinggi dibandingkan varian yang ada sebelumnya.

Laporan ini berbanding terbalik dengan sebelumnya yang memperkirakan Omicron hanya menimbulkan gejala ringan.

Badan kesehatan publik Uni Eropa juga mengingatkan bahwa Omicron bisa menyebabkan setengah dari infeksi baru di Benua itu dalam beberapa bulan ke depan.

 Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid Afrika Selatan Salim Abdool mengatakan dibutuhkan waktu empat minggu untuk mengetahui seberapa besar dampak Omicron pada kenaikan kasus baru Covid-19  di negara tersebut.

"Semuanya menjadi lebih jelas saat orang-orang yang sakit melaporkan dan berobat ke rumah sakit," tuturnya, kepada BBC.

Pemerintah Afrika Selatan telah meminta warganya untuk melakukan vaksinasi secepatnya. Namun, laju vaksinasi terbilang masih lambat.

Reporter BBC di Afrika Selatan melaporkan jumlah vaksinasi harian di Afrika Selatan hanya naik menjadi 160 ribu per hari dibandingkan 120 ribu per hari pada 25 November lalu.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait