Nestle Habiskan Rp 1,6 Triliun per Tahun untuk Beli Susu Segar Lokal

Indonesia masih kekurangan bahan baku untuk pengolahan susu segar dan harus mengimpor 78% untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Image title
7 Desember 2021, 09:57
Nestle, susu segar, susu, industri
@Nestle_IDN/twitter
Pihak Nestle Indonesia bertemu dengan peternak sapi perah di Jawa Timur dan memberikan pendampingan teknis & pelatihan.

PT Nestle Indonesia melakukan pembelian susu segar dari peternak sapi perah di pedesaan senilai Rp 1,6 triliun per tahunnya. Pembelian tersebut merupakan bagian dari kemitraan sekaligus memenuhi kebutuhan nasional yang terus naik di tengah minimnya pasokan dalam negeri.

“Setiap tahun, Nestlé Indonesia membayar sekitar Rp1,6 triliun untuk pembelian susu segar kepada para peternak sapi perah di pedesaan, yang mendukung pembangunan ekonomi pedesaan dan penghidupan para peternak sapi perah,” ujar Presiden Direktur Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar, dalam siaran pers Kementerian Perindustrian, Senin (6/12).

Ganesan menegaskan, selama 50 tahun beroperasi, Nestle berkomitmen untuk menggunakan sebanyak mungkin bahan baku setempat, termasuk susu segar dari peternak rakyat.

Langkah tersebut diharapkan bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia.

Advertisement

 "Kemitraan ini merupakan wujud nyata keyakinan bagi perusahaan, bahwa untuk mencapai sukses jangka panjang, masyarakat sekitar perusahaan juga harus sejahtera," tambahnya.

Dikutip dari laman twitter Nestle Indonesia,  perusahaan tersebut bermitra dengan peternak sapi perah di Jawa Timur dengan memberikan pendampingan teknis dan pelatihan.

Setiap hari, mereka membeli lebih dr 750 ribu liter susu segar dari 27 ribu peternak sapi perah di Jawa Timur. 

Sebagai informasi, pasokan bahan baku susu segar dari dalam negeri masih jauh dari angka kebutuhan.

Bahan baku dalam negeri hanya bisa mencukupi kebutuhan industri sekitar 22%, dan 78% kebutuhan bahan baku masih diimpor.

Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin mengatakan, salah satu tantangan saat ini dalam pengembangan produksi SSDN, yaitu produktivitas susu segar dari sapi perah rakyat hanya 8-12 liter per ekor per hari.

Sementara itu, secara best practice-nya, yang ideal bisa mencapai 30 liter per ekor per hari.

"Jadi, kami berupaya mengakselerasi kebijakan substitusi impor sebesar 35% tahun 2022,” kata Putu dalam keterangan resminya, Senin (6/12).

 Untuk meningkatkan produktivitas industri susu segar dalam negeri, pemeliharaan sapi perah yang baik dan penyediaan pakan hijauan merupakan hal yang penting.

Dia mengatakan, jika produksi susu segar dapat ditingkatkan, maka pendapatan para peternak sapi lokal juga akan meningkat.

Putu menyebut, pihaknya mendorong industri pengolahan susu dapat ikut berkontribusi membudidayakan pakan hijauan Kemenperin juga memacu investasi industri pengolahan pakan hijauan guna menumbuhkan sektor tersebut.

"Kalau kita bisa menghasilkan pakan hijauan yang berkualitas dan kompetitif, akan mendongkrak produktivitas industri pengolahan susu di tanah air. Apalagi, investasi di sektor industri pengolahan susu terus tumbuh,” kata dia.

Oleh karena itu, Kemenperin akan mengembangkan pengolahan pakan hijauan, khususnya industri yang terintegrasi dengan bahan baku pakannya. Upaya ini diyakini dapat memberikan efek ekonomi yang luas, dari peternak sapi perah lokal, koperasi, hingga industri.

 Ketersediaan pakan hijauan memang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produksi susu segar. Pakan terdiri dari dua jenis, yaitu konsentrat dan hijauan.

Oleh sebab itu, solusi pakan menjadi hal yang mendesak, khususnya untuk jenis ruminansia.

Hal itu dikarenakan, di dalam negeri belum banyak yang membudidayakan pakan hijauan. Walaupun beberapa petani sudah ada yang mengembangkan, namun kuantitas dan kualitasnya masih belum memenuhi standar.

Menurutnya, pengembangan industri pakan hijauan menjadi program strategis bagi Kemenperin karena dinilai dapat mendukung produktivitas industri pengolahan susu.

“Jadi, sangat penting untuk menumbuhkan industri pengolahan pakan hijauan ini. Apalagi, kita punya sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakannya,” ujarnya.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait