WHO Ingatkan Tak Ada Bukti Anak dan Remaja Sehat Perlu Vaksin Booster

Beberapa negara berencana memberikan vaksin booster kepada anak-anak dan remaja, termasuk Israel dan Jerman.
Image title
19 Januari 2022, 10:18
who, vaksin booster, covid-19
ANTARA FOTO/REUTERS/Mayela Lopez/WSJ/djo
Julian Parra, 11 menerima suntikan vaksin virus corona (COVID-19) Pfizer-BioNTech di pusat vaksinasi di San Jose, Kosta Rika, Selasa (11/1/2022).

Vaksinasi Covid-19 dosis ketiga atau booster tengah giat dilakukan sejumlah negara. Namun, Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan menyatakan, saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang sehat memerlukan vaksin virus corona dosis booster.

"Tidak ada bukti saat ini bahwa anak-anak yang sehat atau remaja membutuhkan booster. Tidak ada bukti sama sekali," katanya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/1).

Ia mengatakan ada penurunan kekebalan vaksin dari waktu ke waktu terhadap penyebaran varian Omicron yang cepat. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan kelompok yang membutuhkan dosis booster.

Sebagai informasi, Israel telah menawarkan booster kepada anak-anak berusia 12 tahun.

Advertisement

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat juga telah mengizinkan penggunaan dosis ketiga vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech untuk anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun.

 Pekan lalu, Jerman menjadi negara terbaru yang merekomendasikan agar semua anak berusia 12 hingga 17 tahun menerima suntikan booster Covid-19. Hongaria juga telah melakukannya.

Swaminathan mengatakan, kelompok ahli WHO akan bertemu akhir pekan ini untuk membahas bagaimana negara harus mempertimbangkan pemberian booster kepada masyarakat mereka.

Ini dilakukan untuk melindungi kelompok yang paling rentan dan berisiko tinggi terkena penyakit parah dan sekarat.

"Mereka adalah populasi lanjut usia, orang-orang dengan gangguan kekebalan, juga petugas kesehatan," katanya.

 Di Indonesia, pemerintah telah memulai program vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster. Kementerian Kesehatan pun mencatat, 170 ribu orang sudah menerima suntikan penguat.

Berdasarkan materi presentasi Menteri Kesehatan pada Selasa (18/1) di Komisi IX DPR, capaian vaksin booster tertinggi berada di Jawa Barat, yaitu mencapai 40.175 orang.

Selanjutnya, Jawa Timur menempati posisi kedua dengan capaian vaksinasi sebanyak 25.984 orang.

Sementara, vaksinasi di Jakarta sebanyak 23.660 orang, Jawa Tengah 18.774 orang, dan Banten 5.535 orang.

Adapun, capaian vaksinasi booster terendah ialah Maluku Utara dan Sulawesi Barat masing-masing 7 orang, Sulawesi Tenggara 11 orang, Papua Barat 21 orang, dan Gorontalo 27 orang.

 Pada bulan ini, pemerintah menargetkan vaksinasi booster dapat dilakukan kepada 21,5 juta orang. Jumlah itu terdiri dari 18 juta usia dewasa dan 3,41 juta lansia.

Pada bulan depan, pemerintah menargetkan vaksinasi dosis penguat bisa diberikan kepada 13,78 juta orang. Jumlah itu meliputi 13,08 juta orang dewasa dan 693,5 ribu lansia.

Kemudian pada Maret, total sasaran vaksin booster sebanyak 13,38 juta orang yang diberikan kepada 12,62 juta orang dewasa dan 757,5 ribu lansia.

Berikutnya, sasaran vaksinasi pada April meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Vaksin booster pada April ditargetkan mencapai 17,73 juta orang yang meliputi 16,4 juta orang dewasa dan 1,32 juta orang lansia.

Sementara, target vaksinasi pada Mei dan Juni masing-masing mencapai 16,65 juta orang dan 13,85 juta orang.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait