LinkAja, GoTo, Hingga Investree Gencar Donasi Konsentrator Oksigen

Sejumlah startup juga menggalang gerakan “Oxygen For Indonesia” . Target gerakan tersebut adalah menyediakan 10 ribu konsentrator oksigen yang akan didistribusikan ke sekitar 1.500 rumah sakit.
Image title
3 September 2021, 08:57
LinkAja, GoTo, Grab, konsentrator oksigen
ANTARA/Mohammad Ayudha
Warga mengantre untuk melakukan isi ulang oksigen pada kegiatan Bakti Sosial Oksigen Gratis di Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (30/7/2021. Sejumlah startup seperti Link Aja an GoTo juga memberikan donasi konsentrator oksigen secara gratis. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww.

Sejumlah startup seperti LinkAja, GoTo, Grab hingga Investree gencar mendonasikan konsentrator oksigen. Bahkan, startup seperti Kitabisa, Pluang, Mapan, BukuWarung, Halodoc, dan lainnya juga membentuk gerakan "Oxygen for Indonesia" atau OxygenID.

LinkAja misalnya, menggandeng Yayasan Rumah Zakat dalam menyalurkan bantuan oksigen. Total, penyaluran oksigen ditujukan kepada 80 hingga 100 pasien yang membutuhkan.

Direktur Utama LinkAja Haryati Lawidjaja mengatakan, bantuan oksigen itu merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam penanganan Covid-19.

"Membantu meringankan masyarakat yang tengah berjuang melawan Covid-19 dan masih membutuhkan oksigen," katanya dalam siaran pers, kemarin (2/9).

Advertisement

Bantuan oksigen nantinya akan diperuntukkan bagi pasien Covid-19 di Jabodetabek, Bandung, Cimahi, Yogyakarta, Solo, dan Pontianak. Sebelumnya, pasien yang membutuhkan oksigen bisa mengajukan penyediaan melalui Crisis Centre yang dibangun Rumah Zakat. Kemudian, proses penyediaan tabung oksigen akan diberikan langsung kepada perorangan atau melalui fasilitas kesehatan (faskes) yang telah bekerja sama.

Entitas gabungan Gojek dan Tokopedia, GoTo juga mendonasikan lebih dari 1.000 konsentrator oksigen bagi faskes di Indonesia. Pendistribusian ribuan konsentrator oksigen dilakukan melalui pemerintah daerah.

Chief Public Policy and Government Relations, GoTo, Shinto Nugroho menyampaikan, tujuan GoTo mendonasikan konsentrator oksigen adalah untuk meringankan upaya pemerintah dalam menanggulangi pandemi. "Karena penanganan pandemi membutuhkan gotong royong," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (1/9).

Konsentrator oksigen adalah perangkat untuk menghilangkan kandungan nitrogen yang ada di udara sehingga menghasilkan oksigen murni hingga 96%.
Sebelumnya, pada pada tahap pertama Agustus lalu, GoTo melalui Yayasan Anak Bangsa Bisa juga telah menyerahkan 200 unit konsentrator oksigen kepada Kementerian Kesehatan.

Gojek juga mendirikan Rumah Oksigen Gotong Royong yang dibangun di Pulogadung, Jakarta Timur. Rumah Oksigen Gotong Royong merupakan inisiasi dari Grup GoTo, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, PT Aneka Gas Industri Tbk (Samator), Master Steel, Tripatra Engineers and Constructors, hingga Halodoc.

 Rumah Zakat dan LinkAja menyalurkan bantuan layanan peminjaman tabung oksigen gratis di Yogyakarta, Rabu (11/8).
Rumah Zakat dan LinkAja menyalurkan bantuan layanan peminjaman tabung oksigen gratis di Yogyakarta, Rabu (11/8). (Rumah Zakat)



Startup teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) Investree juga menggandeng platform galang dana Kitabisa.com membuat program donasi TreeCare. Melalui program tersebut, perusahaan mengajak peminjam (borrower), pemberi pinjaman (lender), hingga masyarakat umum berdonasi untuk menyediakan konsentrator oksigen.

"Ini karena Indonesia membutuhkan akses oksigen dengan konsentrasi tinggi dalam proses penyembuhan Covid-19," kata CEO Investree Adrian Gunadi dalam siaran pers pada pekan lalu (24/8).
Oksigen konsentrator itu nantinya akan disalurkan bagi rumah sakit-rumah sakit di Indonesia yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan.

 Donasi yang terkumpul ditargetkan menyentuh angka Rp 300 juta. Investree sendiri sebagai perusahaan turut berdonasi dana melalui halaman sebesar 70% dari target. 

Decacorn asal Singapura Grab juga menyumbang 1.000 konsentrator dan 1.000 tabung oksigen untuk Indonesia. "Masih banyak masyarakat yang perlu bantuan melawan virus dan bertahan di tengah pandemi," kata Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi saat konferensi pers virtual, Agustus lalu (5/8).

Donasi disalurkan ke fasilitas kesehatan seperti rumah sakit darurat Covid-19 dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Jangkauan donasi mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat hingga Riau.

Selain bantuan oksigen, Grab memberikan satu juta dosis vitamin bagi para tenaga kesehatan di RS darurat, supir ambulans, dan pekerja yang menangani pemakaman pasien Covid-19.

Selain itu, sejumlah startup mulai dari Kitabisa, Pluang, Mapan, BukuWarung, Halodoc, TokoCrypto, Payfazz, Advotics, eFishery, Waresix, KAYA.ID, Bibit, Flip, hingga Bonza membuat gerakan "Oxygen for Indonesia" atau OxygenID. Gerakan ini bertujuan menggalang donasi untuk membantu menyediakan oksigen bagi pasien Covid-19 di Indonesia.

Selain startup, perusahaan modal ventura lainnya yang tergabung dalam gerakan ini, seperti East Venture yakni Sequoia India, Intudo, Goventures, Golden Gate Ventures, AC Ventures, Jungle Ventures, Asia Partners, Monk’s Hill Ventures, dan Open Space Ventures.

Gerakan “Oxygen For Indonesia” memiliki target untuk menyediakan 10 ribu konsentrator oksigen yang akan didistribusikan ke kurang lebih 1.500 rumah sakit. Perkiraannya gerakan ini dapat membantu 30 ribu pasien Covid-19 di Indonesia dalam jangka pendek, dan tujuh juta pasien dalam jangka panjang.

 “Di masa krisis, setiap upaya kecil penting. Kami memulai ‘Indonesia PASTI BISA yang dapat mengumpulkan US$ 1 juta untuk menyediakan minimal 1.000 konsentrator oksigen ke Indonesia," kata Wilson Cuaca, Founding Partner East Ventures, salah satu penggagas gerakan Indonesia PASTI Bisa yang kini tergabung dalam gerakan Oxygen For Indonesia, dikutip dari siaran pers, Juli lalu (23/7).

Sebelumnya, Menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kebutuhan oksigen di Indonesia mencapai 2.000 ton per hari. Jumlahnya meningkat dibandingkan sebelum terjadi lonjakan kasus Covid-19, yang hanya 400 ton per hari.

"Kami melihat kebutuhan oksigen tinggi. Maka kami meningkatkan penyediaan," ujar Budi.

Menurutnya, penyediaan kebutuhan oksigen akan sulit dilakukan oleh pemerintah, tanpa bantuan pihak lain. Oleh karena itu, pemerintah menggaet berbagai perusahaan untuk menyediakan oksigen.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait