BI Proyeksi Inflasi 0,01% di Juli, Mahalnya Cabai jadi Penyebabnya

BI memproyeksi inflasi di Juli akan berada di kisaran 0,01% secara bulanan (month on month). Kenaikan harga cabai menjadi salah satu penyebabnya.
Image title
23 Juli 2021, 21:24
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (tengah) mengunjungi Pasar Induk Osowilangun, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/4/2021). Kenaikan harga cabai diperkirakan mengerek inflasi di bulan Juli.
ANTARA FOTO/Moch Asim/hp.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (tengah) mengunjungi Pasar Induk Osowilangun, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/4/2021). Kenaikan harga cabai diperkirakan mengerek inflasi di bulan Juli.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi di bulan Juli akan berada di kisaran 0,01% secara bulanan (month on month) dan 1,45% secara tahunan (year on year). 

Sementara itu, inflasi tahun kalender diproyeksikan mencapai 0.75% hingga Juli. Proyeksi tersebut merujuk pada survey minguan BI hingga pekan ke empat di bulan ini. 

"Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV Juli 2021, perkembangan harga masih relatif terkendali," kata Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam keterangan resminya. Jumat, (23/7).

Berdasarkan proyeksi BI, cabai rawit akan menjadi penyumbang inflasi terbesar di bulan Juli. Cabai rawit diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,04% (month on month). Menurut data infopangan.jakarta.go.id, harga cabai rawit meroket ke kisaran Rp 69.000 per kg, jauh lebih tinggi dibandingkan pada akhir Juni yang berada di level Rp 57.000 per kg.

Advertisement

Selain  cabai, inflasi pada Juli akan didorong oleh kenaikan harga tomat. bawang merah, kangkung, bayam, kacang panjang dan rokok kretek filter.

Sebaliknya beberapa komoditas justru mencatatkan deflasi seperti  daging ayam, telur aaym ras,  emas perhiasan, jeruk, dan tarif angkutan udara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,  Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,16% di bulan Juni. Deflasi terjadi lebih karena faktor musiman pasca lebaran. Secara tahunan (year on year), inflasi Juni berada di kisaran 1,33%. Inflasi inti mencapai 0,14% (month on month) dan 1,49% (year on year).

BI dalam rilis hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulan Juli memprediksikan inflasi tahun 2021 dan 2021 akan berada dalam kisaran sasarannya 3,0 plus minus 1%. 

"Inflasi inti terjaga rendah sejalan dengan pemulihan permintaan domestik yang masih terbatas, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan kebijakan Bank Indonesia yang konsisten mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target." kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis, (22/7).

Di tengah perkirakan tingkat inflasi yang rendah dan upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, dalam RGD bulan ini bank sentral kembali mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5%. Ini masih mempertahankan posisinya sejak Februari 2021 dan jadi yang terendah sepanjang sejarah.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana mengatakan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan  Masyarakat (PPKM) Level 3-4 kemungkinan akan berdampak kepada pergerakan inflasi.  Namun, hal itu tergantung pada seberapa lama pemerintah akan memberlakukan PPKM Level 3-4. 
"Mengingat pemberlakuan kebijakan cukup mirip dengan pembatasan mobilitas yang diperketat di akhir kuartal III 2020, kemungkinan kebijakan itu akan berpengaruh signifikan terhadap permintaan setelah empat bulan implementasi kebijakan," seperti disampaikan kepada Katadata.

Seperti diketahu, Pemerintah Provinsi  Jakarta sempat  menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Total pada 14 September 2020 yang  berdampak pada menurunnya permintaan.

Wisnu memperkirakan harga barang-barang akan bergerak naik menjelang akhir tahun karena faktor musiman.

 

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait