Produksi Minyak Cina Sentuh Level Terendah dalam 15 Tahun

?Artinya, Cina akan lebih banyak bergantung pada impor dari Timur Tengah dan Rusia.?
Maria Yuniar Ardhiati
14 Juni 2016, 08:00
Kilang minyak
Katadata

Produksi minyak mentah Cina merosot ke level terendah dalam 15 tahun terakhir.  Penyebabnya adalah penerapan strategi organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) yang membanjiri pasar dunia dengan pasokan minyak mentah.

“Ini indikator penting yang menunjukkan pasar minyak dunia sedang menemukan keseimbangannya kembali,” kata analis dari kantor konsultan industri Energy Aspects Ltd., Michal Meidan, seperti dikutip Bloomberg, Senin (13/6). (Baca: Permintaan Naik, Saudi Aramco Kerek Harga Minyak di Pasar Asia)

Sementara itu, Kepala Riset Migas Nomura Holdings Inc. untuk kawasan Asia, Gordon Kwan menjelaskan, rendahnya produksi domestik Cina akibat pemotongan belanja para produsen minyak di tengah rendahnya harga. Pada Maret lalu, produsen minyak terbesar Cina, yaitu PetroChina Co., memprediksi penurunan produksi migas terbesar dalam 17 tahun terakhir setelah perusahaan ini menutup beberapa lapangan yang tidak menguntungkan.

Sedangkan raksasa minyak Cina lainnya, CNOOC Ltd., memperkirakan produksi minyak anjlok hingga 5,2 persen tahun ini. “Artinya, Cina akan lebih banyak bergantung pada impor dari Timur Tengah dan Rusia,” ujar Kwan. (Baca: Harga Minyak Sentuh US$ 50, Rig di Amerika Beroperasi Lagi)

Biro Statistik Nasional Cina mengumumkan penurunan produksi negara tersebut mencapai 7,3 persen dibandingkan tahun lalu. Pada 2015, produksi minyak mentah Cina tercatat 16,87 juta metrik ton. Anjloknya produksi ini menjadi yang terbesar sejak Februari 2001.

Di sisi lain, penurunan produksi Cina tersebut bisa membantu pasar minyak dunia mencapai keseimbangan baru harga minyak. Belakangan ini, harga minyak telah bangkit (rebound) hingga 75 persen dari titik terendahnya dalam 12 tahun, pada awal tahun ini. Reli tersebut telah membuat OPEC percaya diri dengan strategi yang diprakarsai oleh Arab Saudi untuk memenangkan pangsa pasarnya.

Perusahaan-perusahaan mulai menutup lapangan-lapangan yang sudah tidak menguntungkan serta memangkas sejumlah investasi. Hal ini disampaikan oleh International Energy Agency (IEA) dan Goldman Sachs Group Inc.

Selain minyak, produksi batu bara Cina juga turun hingga 15,5 persen. Penurunan ini disebabkan antara lain oleh perlambatan ekonomi, keinginan Cina untuk menekan kelebihan pasokan serta pengurangan polusi. Pada Mei lalu, produksi batu bara di negara itu turun 263,75 juta ton. (Baca: Produksi Turun, Harga Minyak Indonesia Melonjak 20 Persen)

Analis dari lembaga penyedia informasi pasar petrokimia ICIS China, Deng Shun menyebut penurunan produksi sejumlah perusahaan tambang lokal bakal mengerek harganya. Di Qinhuangdao yang menjadi acuan pasar, pada Minggu (12/6), harga batu bara untuk pertama kalinya naik dalam tiga pekan terakhir menjadi rata-rata 400 yuan (setara US$ 60,2) per ton. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak September 2015, berdasarkan data yang dirilis China Coal Transport and Distribution Association.

Video Pilihan

Artikel Terkait