Saingi Go-Jek, Uber Merambah Layanan Ojek Motor

Tarif minimum ojek versi Uber ini di Bangkok US$ 0,28 atau sekitar Rp 3.780 (kurs Rp 13.500 per dolar AS). Lalu, tambahan US$ 0,1 per kilometer dan US$ 0,02 per menit.
Maria Yuniar Ardhiati
24 Februari 2016, 16:32
Ojek online
Arief Kamaludin|KATADATA
Di Indonesia, layanan ojek online Uber akan bersaing dengan Go-Jek.

KATADATA - Layanan transportasi berbasiskan sepeda motor akan semakin semarak. Setelah sukses mengembangkan aplikasi layanan transportasi taksi di berbagai negara, Uber meluncurkan aplikasi transportasi menggunakan sepeda motor alias ojek di Thailand, Selasa lalu (23/2). Dalam waktu dekat, tidak menutup kemungkinan layanan tersebut juga hadir di Indonesia dan bersaing dengan Go-Jek dan GrabBike. 

Seperti dilansir situs TechinAsia, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini mengusung nama UberMOTO untuk layanan terbarunya tersebut di Kota Bangkok. Layanan ojek itu diharapkan menjadi solusi transportasi masyarakat di tengah kemacetan di ibukota Thailand tersebut. Saban hari, sekitar 1.500 mobil lalu-lalang di jalanan Kota Bangkok. Pengendara mobil membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mencapai tujuan.

"Melalui UberMOTO, dengan bersemangat kami perkenalkan produk transportasi yang murah dan mudah untuk masyarakat Thailand, sekaligus membuka puluhan ribu pekerjaan," kata Head of Asia Expansion Uber Douglas Ma, seperti dikutip Coconut Bangkok, Rabu (24/2).

Uber bermitra dengan Thai Traffic Police serta Head Awareness Club untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam berkendara. Semua pengendara dan penumpang motor di Bangkok harus mengenakan helm. Selain helm, fitur keselamatan standar lainnya seperti pelacak GPS, sistem pemberi saran dua arah, serta informasi keterangan perjalanan juga disediakan UberMOTO. Tarif minimum ojek versi Uber ini di Bangkok US$ 0,28 atau sekitar Rp 3.780 (kurs Rp 13.500 per dolar AS).  Lalu, tambahan US$ 0,1 per kilometer dan US$ 0,02 per menit.

(Baca: Kontroversi Taksi Uber di 18 Negara)

Meski diluncurkan pertama kali di Bangkok, manajemen Uber menyatakan, UberMOTO dirancang untuk beroperasi di semua negara-negara pasar berkembang. Artinya, Uber segera membawa fitur barunya ini ke negara-negara tetangga Thailand, seperti Vietnam dan Indonesia. 

(Infografik: Berebut Kue Bisnis Jasa Taksi)

Uber masih harus mengejar ketertinggalannya, karena kompetitornya yaitu GrabBike, sudah lebih dulu hadir di pasar ketiga negara tersebut. Sementara itu, perusahaan dengan sokongan dana dari Sequoia, Go-Jek, sekarang mendominasi pasar ojek online di Indonesia.

Sejak didirikan oleh Travis Kalanick dan Garrett Cam pada 2009 di San Fransisco, AS, layanan taksi online Uber kerap menuai gelombang protes dari berbagai perusahaan taksi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Uber sendiri tidak menyebut usahanya sebagai perusahaan taksi. Uber merupakan perusahaan pembuat aplikasi yang berfungsi untuk menghubungkan penyedia jasa transportasi dengan penggunanya menggunakan aplikasi di ponsel pintar.

Teknologi tersebut memudahkan penggunanya untuk menyewa mobil ke tempat yang dituju, melihat kisaran harga sesuai tarif dasar dan tarif per kilometer yang berlaku serta mengirimkan lokasi mobil ke kontak teman guna berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Uber memberikan alternatif transportasi yang efisien, cepat dan murah bagi masyarakat.

Perusahaan pembuat aplikasi Uber didirikan dengan modal awal US$ 49 juta atau sekitar Rp 637 miliar. Uber kini telah merambah ke 300 kota di 57 negara. Pada 2014, omzetnya sudah mencapai US$ 18,2 miliar atau sekitar Rp 237 triliun.

(Infografik: 300 Kota Pengguna Uber)

Dengan kinerja sekinclong itu, tak mengherankan para investor pun berebut menanamkan modalnya di Uber. Per Februari 2015, nilai investasi yang sudah berhasil diraihnya mencapai US$ 5,9 miliar. Dana itu berasal dari 43 investor, termasuk Lowercase Capital, Menlo Ventures, Goldman Sach, Google Ventures, Fidelity Investments, Wellington Management, dan BlackRock Inc.

Reporter: Maria Yuniar Ardhiati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait