Hadapi 3 Risiko, BP: Permintaan Minyak Masih Bisa Naik 1 Persen

?Di tengah merosotnya harga minyak dan gas, yang penting dilakukan bukan hanya beradaptasi dengan kondisi sulit seperti sekarang, tapi juga siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.?
Maria Yuniar Ardhiati
12 Februari 2016, 16:52
Pengeboran minyak lepas pantai.
KATADATA

KATADATA - Harga minyak yang terus melorot hingga di bawah level US$ 30 per barel telah memukul industri minyak dan gas bumi (migas) dunia. Banyak kalangan memprediksi, rendahnya harga minyak saat ini masih akan terus berlanjut lantaran perlambatan ekonomi dunia sehingga terjadi kelebihan pasokan minyak. Namun, raksasa perusahaan energi BP Plc memperkirakan permintaan minyak dunia akan tetap meningkat.

Dalam laporan terbarunya bertajuk "Energy Outlook 2016" yang dirilis Rabu lalu (10/2), BP mengidentifikasi tiga risiko yang dihadapi industri migas saat ini dan di masa depan. Pertama, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan kawasan Eropa belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Sementara itu, perekonomian Cina, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi motor ekonomi dunia, kini cenderung melambat.

Bank Dunia dalam laporan terbarunya yang dilansir Januari lalu, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 2,9 persen. Angkanya lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada medio 2015 yang sebesar 3,3 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi di Cina itu bisa menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian negara-negara berkembang. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang tahun 2016 sebesar 4,8 persen, lebih rendah dari proyeksi semula sebesar 5,4 persen. Padahal, negara-negara berkembang merupakan salah satu konsumen energi terbesar di dunia.

(Baca: Bank Dunia Peringatkan Ekonomi Negara Berkembang Hadapi Risiko Besar)

Risiko kedua, masa transisi peralihan konsumsi energi ke penggunaan sumber energi rendah karbon. Banyak negara saat ini mulai beralih menggunakan sistem energi dengan kadar karbon yang rendah. Pertemuan COP21 di Paris, Perancis, pada Desember 2015, menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses peralihan tersebut.

(Baca: Banjir Pasokan, Harga Minyak Bisa Terus Turun Hingga Akhir Tahun

Ketiga, melajunya produksi gas serpih (shale gas) dan minyak jenis tight oil sebagai alternatif minyak fosil. Pasokan gas alam pun naik signifikan, dengan didukung peningkatan produksi shale gas di seluruh dunia. Peningkatan produksi tersebut diprediksi mencapai 5,6 persen per tahun. Pangsa shale gas dalam produksi gas diproyeksikan naik dari 10 persen pada 2014 menjadi 25 persen di tahun 2035.

Di sisi lain, ketersediaan minyak dunia juga diprediksi naik mendekati 19 juta barel per hari pada 2035. Kondisi ini dipicu pertumbuhan pasokan dari negara-negara non-OPEC, terutama minyak mentah konvensional dari Amerika Serikat. Alih-alih mengurangi produksinya untuk menjaga harga minyak dunia, OPEC malah mempertahankan produksinya untuk menjaga target pangsa pasar sekitar 40 persen.

Meski menghadapi tiga tantangan, BP tetap optimistis dengan pertumbuhan di industri migas. Perusahaan energi asal Inggris ini pun telah mempersiapkan strategi jangka panjang di tengah perubahan kondisi sektor energi dunia. “Di tengah merosotnya harga minyak dan gas, yang penting dilakukan bukan hanya beradaptasi dengan kondisi sulit seperti sekarang, tapi juga siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” kata Group Chief Executive BP Bob Dudley.

BP melihat peningkatan pendapatan dan bertambahnya jumlah penduduk dunia di masa depan merupakan kunci pendorong pertumbuhan permintaan energi. Populasi dunia diperkirakan mencapai sekitar 8,8 miliar orang pada 2035. Ini artinya ada tambahan 1,5 miliar orang yang membutuhkan pasokan energi. Di periode yang sama, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan naik lebih dari dua kali lipat, dengan kontribusi dari Cina dan India terhadap lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi dunia.

Karena itulah, secara rata-rata hingga 2035 mendatang, BP memperkirakan permintaan dunia terhadap energi tumbuh 1 persen per tahun. Alhasil, pasar minyak dunia akan menemukan keseimbangan kembali, setelah rendahnya harga memicu permintaan sekaligus meredam penawaran. Pada 2035, kebutuhan dunia terhadap minyak diprediksi naik 20 juta barel per hari menjadi 112 juta barel per hari.

Peningkatan permintaan ini datang dari negara-negara berkembang, yang dominasi oleh Cina dan India. Selain itu, meski dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi gas melemah, BP yakin di masa mendatang tercipta pertumbuhan. Dalam rentang 2015-2030, permintaan gas dunia diperkirakan naik 1,8 persen per tahun.

(Baca: Terus Turun, Harga Minyak Mendekati Level US$ 20-an)

Namun, International Energy Agency (IEA) berpandangan lebih pesimistis terhadap industri migas saat ini. Badan energi internasional ini memperkirakan surplus minyak dunia akan melonjak tajam. Apalagi, ada tambahan pasokan minyak dari Iran dan Irak. Hal ini akan menyebabkan harga minyak terus tertekan.

Seperti dilansir Bloomberg, Selasa lalu (9/2), IEA memperkirakan kelebihan pasokan minyak dunia tahun ini rata-rata 1,75 juta barel per hari. Perkiraannya lebih tinggi dibandingkan proyeksi pada bulan lalu yang sebesar 1,5 juta barel per hari. Penyebabnya, produksi dari 13 negara anggota OPEC naik 280 ribu barel per hari menjadi 32,63 juta barel per hari. Artinya, ada kelebihan pasokan 900 ribu barel per hari.

(Baca: Harga Minyak Rendah Menguntungkan Negara Net-importir?

Tak seperti BP yang optimistis dengan pertumbuhan permintaan, IEA memangkas proyeksi permintaan minyak dunia tahun ini, yaitu 100 ribu barel minyak per hari lebih rendah dari tahun lalu. Dengan demikian, pertumbuhan permintaan minyak dunia tidak berubah dari 2015 yaitu sebesar 1,2 juta barel per hari. Ini lebih rendah dibandingkan pencapaian pertumbuhan permintaan minyak selama lima tahun terakhir, yaitu rata-rata 1,6 juta barel per hari.

Reporter: Maria Yuniar Ardhiati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait