Harga Avtur Anjlok, Tarif Batas Atas Kelas Ekonomi Pesawat Turun

Pemberlakuan tarif batas atas dan bawah ini mendorong maskapai melakukan efisiensi untuk memaksimalkan keuntungan. Seperti mengurangi delay, mengurangi taxiing dan waktu terlalu lama berputar di udara
Maria Yuniar Ardhiati
11 Februari 2016, 18:59
Pesawat Garuda
Arief Kamaludin|KATADATA
(Arief Kamaludin | KATADATA)

KATADATA - Penumpang pesawat mendapat berkah dari anjloknya harga avtur dan tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dua faktor itu mendorong pemerintah menurunkan tarif batas atas dan bawah tiket pesawat terbang sebesar lima persen. "Penataan tarif ini kami lakukan pada harga jasa di rute dalam negeri," kata Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub Julius Adravida Barata saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (11/2).

Keputusan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Berjadwal Dalam Negeri yang diteken Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, 28 Januari lalu. Penurunan tarif tersebut diharapkan dapat meningkatkan perlindungan kepada penumpang pesawat dari praktik persaingan yang tidak sehat, terutama saat harga minyak dunia dan rupiah masih berfluktuasi seperti saat ini.

Barata menyebut, ada beberapa komponen yang dijadikan formulasi tarif tersebut. Di antaranya adalah tarif jarak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), iuran wajib asuransi, serta passenger service charge dan juga surcharge.

(Baca: INACA Tolak Dana Ketahanan Energi Diambil dari Avtur)

Penghitungannya tetap merujuk kepada kelompok pelayanan maskapai yang terdiri dari beberapa komponen. Maskapai full service sebagai contoh. Maskapai ini memiliki tarif 100 persen tarif maksimum. Sedangkan maskapai medium service menerapkan tarif tertinggi 90 persen. Untuk maskapai no frills atau low cost carrier (LCC), tarif yang dikenakan paling tinggi 85 persen dari tarif maksimum. "Batas bawah tarif untuk kelas ekonomi diterapkan paling rendah 30 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanannya," ujar Barata.

(Baca: 9 Maskapai Indonesia di Jajaran Terburuk Dunia)

Maskapai tetap diperbolehkan melakukan perubahan tarif kelas ekonomi merujuk kepada aturan tersebut dengan dua syarat. Pertama, melaporkannya kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Kedua, menyampaikannya kepada konsumen dengan tenggat waktu 15 hari sebelum pemberlakuan tarif. "Ketentuan sanksi bagi maskapai yang tidak mengikuti aturan juga disebutkan dengan memberikan peringatan, pengurangan frekuensi, pencabutan izin rute, pemberian denda, ataupun pembekuan rute penerbangan," kata Barata.

(Baca: 10 Maskapai Murah Bersaing Di ASEAN)

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin berharap Kementerian Perhubungan mampu memproyeksikan harga avtur yang fluktuatif akibat merosotnya harga minya dunia. Dengan demikian, maskapai dapat menghitung beban operasional. Ketentuan semacam ini bermanfaat untuk peak season seperti masa liburan, ketika maskapai menerapkan batas atas harga tiket. "Karena tahun lalu itu harga avtur naik tapi tidak ada proyeksinya," kata Tengku.

Pemberlakuan tarif batas atas dan bawah ini juga mendorong maskapai mau tidak mau harus melakukan efisiensi untuk memaksimalkan keuntungan. Oleh sebab itu, Tengku menjelaskan, INACA akan mengambil sejumlah langkah untuk disinergikan dengan pihak lain. "Seperti mengurangi delay, mengurangi taxiing, lalu juga mengurangi waktu terlalu lama berputar di udara (holding) menunggu landing," katanya.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait