Rambu-Rambu Perusahaan Startup agar Bernapas Panjang

Pasar memiliki sifat dinamis, dengan permintaan dan persoalan yang selalu berubah. “Apakah produk kita selalu meet on demand dan solving the problem?"
Maria Yuniar Ardhiati
9 Oktober 2016, 10:00
Bos digital startup
Arief Kamaludin|KATADATA
Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim, Bos Google Indonesia Tony Keusgen, CMO Traveloka Dannis Muhammad dan CEO MatahariMall Hadi Wenas saat acara "Peluang Digital Indonesia" di Jakarta, 25 Agustus 2016.

Di sisi lain, Nico memberikan catatan terhadap permodalan dari angel financing atau venture capital. Ada bermacam-macam tipe angel atau malaikat., mulai dari yang sekadar chip in atau patungan modal, hingga memberikan dukungan penuh pendanaan bagi startup tersebut.

“Mulai dari seperti malaikat penyelamat, hingga 'setan pencabut nyawa'. Demikian pula pada modal ventura atau venture capital,” ujar Nico. (Baca: Startup Busana Indonesia Shopious Gulung Tikar)

Ia juga mengungkapkan potensi tarik-menarik kepentingan antara pendiri dan pemilik modal utama dalam hal imbalan, kontrol, risiko, serta besaran dana. Para pendiri perlu pandai-pandai memilih sumber pendanaan dan jejaring tentang aturan hukum, agar tidak terberlit masalah dalam pendanaan pihak ketiga.

Memahami pasar

Deputi Bidang Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fajar Hutomo juga mengingatkan pentingnya permodalan bagi startup. “Terkait permodalan, sangat berlaku adagium cash is the king,” ujarnya.

Ia mengibaratkan arus kas atau cashflow dalam suatu entitas usaha sebagai darah dalam tubuh manusia. Jika darah habis, maka manusia akan mati. Begitu pula yang terjadi dalam bisnis. Karena itu, kemampuan pengelolaan keuangan penting dimiliki oleh para founder startup.

Ia menilai  ketidakmampuan startup bertahan selama ini karena sudah gagal mendatangkan pendapatan operasional dan hanya mengandalkan pemasukan dari pemodal. Padahal, selain permodalan, market validation merupakan tahap yang harus senantiasa dilakukan, bukan hanya di masa awal pendirian.

Fajar menjelaskan, pasar memiliki sifat dinamis, dengan permintaan dan persoalan yang selalu berubah. “Apakah produk kita selalu meet on demand (dibutuhkan) dan solving the problem (menjawab permasalahan)?” katanya. (Baca: Presiden Siapkan Anggaran Riset Pengembangan Startup)

Pertanyaan seperti ini harus terus diulang agar produk maupun layanan bisnis yang dijalankan bisa berjalan langgeng.  Dalam tahap ini, proses penelitian dan pengembangan (research and development / R&D) berperan untuk memperoleh masukan dalam mengambil keputusan untuk pengembangan usaha.

Fajar pun mengingatkan, para founder startup harus membekali diri dengan kekuatan mental serta mindset. Kesuksesan dalam menjalankan usaha rintisan bukanlah one night success, melainkan dibangun dari jerih payah, jatuh bangun, serta kegagalan demi kegagalan.

Ketika kesuksesan sudah diraih, kata Fajar, jangan pernah merasa sukses. Ia menjelaskan, ketika para pendiri merasa telah mencapai puncak kesuksesan, di situlah awal kegagalan dimulai. Ada kemungkinan para pendiri yang merasa sudah berada di puncak, kemudian berhenti melakukanm pengembangan. Sementara, para pesaingnya terus bergerak dan berinovasi.

Salah satu founder startup di industri busana, Cotton Ink, Ria Sarwono menceritakan proses bisnis yang dijalaninya sejak berdiri delapan tahun lalu dan bisa terus eksis hingga sekarang. Ketika itu, ia dan rekannya, Carline Darjanto, tidak mempersiapkan banyak hal dan hanya bermodal ide.

(Baca: Badan Kreatif Minta Bursa Percepat 10 Startup yang Layak IPO)

Pada masa-masa awal berdiri, Cotton Ink tumbuh secara organik dengan modal Rp 1 juta. Tanpa proses R&D, mereka memanfaatkan media sosial Facebook untuk berjualan pakaian merek sendiri. Dalam perjalanannya, usaha tersebut menemui tantangan dalam produksi dan mencari sumber daya manusia yang berkualitas.

Saat ini, tantangan yang dihadapi adalah ekspansi pasar. Cotton Ink kini telah memiliki gerai offline di Plaza Senayan, Jakarta. Meski demikian, Ria menolak jika Cotton Ink dikatakan sukses. “Ketika saya dan Carline sudah tidak ada, tapi Cotton Ink masih tetap bertahan, itu baru berhasil,” katanya. 

Ria mengaku, membuat bisnis itu gampang. Namun, mengembangkan dan mempertahankannya bukan perkara mudah.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait