Pengembangan Startup Hadapi Persoalan Regulasi

Dalam hal keterampilan dan kemampuan manajerial, startup lokal tidak kalah dengan asing. Namun, belum dapat menyaingi dari segi pendanaan dan profit.
Maria Yuniar Ardhiati
1 Agustus 2016, 18:00
Puspayoga
Arief Kamaludin | Katadata
Menteri Koperasi dan UKM

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) turut berupaya mendorong pengembangan startup atau perusahaan pemula di Indonesia. Hal ini sejalan dengan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital dengan total valuasi bisnis senilai US$ 10 miliar pada 2020. Tujuannya melahirkan startup berkualitas dan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia.  

Untuk itu, lebih dari 120 ribu orang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan selama kurun 2011 hingga 2015. Mayoritas di antaranya menggeluti sektor produk barang dan jasa untuk kerajinan serta kuliner.

Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga optimistis terhadap potensi startup di Indonesia. Sebab, dibandingkan negara-negara lain, perusahaan pemula di Indonesia tidak kalah dari segi kualitas dan keterampilan. "Namun dari segi pendanaan dan keuntungannya, belum mampu menyaingi negara lain," katanya kepada wartawan Katadata, Maria Yuniar, Jumat (29/7) lalu. 

Berikut ini petikan wawancara tertulis Katadata dengan Puspayoga terkait dengan peran Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengembangkan perusahaan pemula.

Advertisement

Apa saja peran Kementerian Koperasi dalam mendukung program “1.000 Startup” hingga 2020?

Kementerian melakukan pelatihan, pemagangan, pendampingan, hingga inkubasi bisnis. Selain itu, kami membantu startup mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) serta permodalan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Promosi untuk meningkatkan nilai tambah produk serta jangkauan pemasaran juga dilakukan dalam pameran-pameran yang digelar di SME Tower, Jakarta.

Bagaimana upaya dari sisi regulasi?

Kementerian juga mengeluarkan berbagai kebijakan dan insentif untuk memingkatkan kapasitas serta perlindungan usaha. Kami pun berupaya agar startup bisa memperoleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan izin usaha mikro kecil (IUMK).

Tahapan apa saja yang harus dilalui startup untuk mengikuti program tersebut?

Mereka harus mendaftar, yang dapat dilakukan perorangan atau di bawah koordinasi lembaga, untuk mengikuti pelatihan. Kemudian, startup bisa mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan modal usaha. Namun, untuk tahun 2016, Kementerian Koperasi dan UKM tidak lagi mengeluarkan fasilitas bantuan untuk startup atau wirausaha pemula, karena tidak ada alokasi untuk anggaran tersebut.

Ada berapa banyak startup yang menjalani inkubasi?

Jumlah peserta startup yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan dari tahun 2011 sampai dengan 2015 sebanyak 124.320 orang. Rata-rata mereka bergerak di sektor produk barang dan jasa untuk kerajinan serta kuliner.

Dari jumlah itu, berapa startup yang telah menerima side funding dan besaran nilainya?

Yang mendapatkan side funding dari 2012 hingga 2015 sebanyak 16.737 orang dengan nilai bantuan Rp 5 juta – 25 juta. Ini sesuai proposal usaha yang dibuat. Total keseluruhan penyaluran bantuan modal usaha sebesar Rp 195 miliar.

Bagaimana potensi startup sebagai penggerak koperasi dan UKM?

Kelompok startup ini berpotensi untuk menumbuhkan koperasi, baik koperasi multi-purpose mapun single-purpose. Selain itu, wirausaha muda berpeluang menumbuhkan perekonomian di level mikro, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Pada akhirnya bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana kondisi pendanaan dan potensi startup saat in? Apakah mampu menandingi startup asing?

Dalam hal keterampilan dan kemampuan manajerial, startup dalam negeri dari segi kualitas tidak kalah dengan asing. Namun dari segi pendanaan dan profit, belum dapat menyaingi negara lain. Meski begitu, peluang di Indonesia juga masih besar.

Apa indikatornya?

Indikatornya adalah persentase e-commerce di negara maju dan Indonesia. Di negara-negara maju, e-commerce sudah mencapai 20 persen dari pengeluaran ritel. Sementara itu di Indonesia, angka ini baru mencapai sekitar 2 persen. Ini menandakan potensi pasar e-commerce yang luas ke depan.

Apa persoalan yang biasanya dihadapi startup di Indonesia?

Ada empat persoalan. Pertama, cara berpikir. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih berpikir mendapatkan pekerjaan setelah selesai sekolah maupun kuliah. Masyarakat memandang kewirausahaan sebatas usaha dagang atau bisnis. Padahal, wirausaha adalah individu yang memiliki kemampuan berpikit kreatif dan inovatif.

Kedua, kapasitas sumber daya manusia pelaku wirausaha yang masih rendah. Terkadang mereka kurang mampu dalam manajerial, kurang memahami bidang usaha yang digeluti, serta belum mahir mengelola adminstrasi maupun keuangan. Ketiga, adanya persoalan regulasi. Keempat, masalah permodalan.

Apa yang disiapkan Kementerian Koperasi dan UKM untuk mencegah startup gulung tikar?

Kami menyiapkan tenaga pendamping yang memiliki kompetensi dalam mengelola usaha pada setiap dinas provinsi maupun kabupaten, sebagai pendamping dalam menjalankan usaha.

Apa saja contoh startup yang berhasil di Indonesia?

Di Makassar, Sulawesi Selatan, ada Saudara Masdar yang membuka usaha sablon kaos bernama CV Mocers Clothing. Dengan modal awal Rp 15 juta, sekarang ia mempekerjakan enam pegawai. Omzet usahanya mencapai Rp 300 juta per bulan. Selain itu ada Saudari Ika di Medan, Sumatera Utara, dengan brand Ika Cookies. Ia mendapat permodalan Rp 18 juta. Sekarang, produksi kue keringnya mencapai ratusan lusin hingga beromzet Rp 300 juta.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait