Bahan Baku Elektronik dari Tiongkok Tersendat, Pengusaha Minta Solusi

Pengusaha elektronik mengatakan sebagian bahan baku dan komponen produk elektronik berasal dari Tiongkok karena harganya lebih murah dibanding negara lain.
Martha Ruth Thertina
24 Februari 2020, 08:58
Virus Corona, Elektronik, Impor Elektronik
ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Ilustrasi Pabrik Elektronik.

Gabungan Perusahaan Industri Elektronika dan Alat-Alat Listrik Rumah Tangga (Gabel) mengeluhkan terhambatnya pasokan bahan baku dan komponen elektronik dari Tiongkok imbas wabah virus corona (Covid-19). Pengusaha mengharapkan solusi dari pemerintah untuk bisa mengatasi masalah ini.

Ketua Umum Gabel Oki Widjaya menyatakan pasokan komponen dari Tiongkok mulai tersendat. Bila terus berlangsung, hal ini dikhawatirkan bakal mengganggu, bahkan membuat terhentinya produksi dan ekspor industri elektronik.

"Sebagian bahan baku dan komponen produk elektronika kita masih menggunakan komponen dari Tiongkok karena harganya memang lebih bersaing dibandingkan pemasok negara lain," kata dia seperti dikutip Antara.

(Baca: Kekhawatiran Meningkat Seiring Lonjakan Kasus Corona di Luar Tiongkok)

Advertisement

Presiden Direktur Galva Technologies ini pun meminta upaya komprehensif dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Apalagi, industri elektronik merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang masuk dalam prioritas pengembangan agar lebih berdaya saing global.

Sekretaris Jenderal Gabel Daniel Suhardiman menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi atas kemungkinan pukulan keras terhadap sektor elektronik. Langkah antisipasi tersebut misalnya melalui insentif.

"Insentif agar pengadaan material bahan baku dan penolong dari negara non-Tiongkok harganya tetap kompetitif. Apakah pengurangan beban biaya logistik, energi, dan sebagainya," kata Daniel yang juga Direktur PT Panasonic Manufacturing Indonesia.

(Baca: Wabah Corona Ganggu Operasional Pabrik Ponsel Samsung di Korea Selatan)

Di sisi lain, ia menilai, pemerintah seharusnya dapat memanfaatkan kondisi saat ini sebagai momentum memperkuat struktur industri elektronik, salah satunya dengan memberikan aturan investasi yang lebih bersaing dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, atau Malaysia.

"Bisa juga memberikan keringanan pajak, kepastian pengadaan lahan, dan aturan tenaga kerja, serta mendukung peningkatan produktivitas sumber daya manusia melalui pengembangan riset dan desain dengan insentif kompensasi pemotongan pajak," kata Daniel.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait