RI Butuh 1,7 Juta Ekor Sapi Impor Setahun, Mentan: Tak Bisa Dibiarkan

Impor daging sapi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Image title
30 Januari 2020, 20:53
Impor Sapi, Impor Daging Sapi, Data Impor Daging Sapi, Impor Daging Sapi 2020
Donang Wahyu | Katadata
Ilustrasi sapi impor

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ingin mengurangi impor daging sapi. Saat ini, Indonesia membutuhkan impor hingga 300 ribu ton daging sapi atau setara 1,7 juta ekor sapi setahun, untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

"(Sebanyak) 300 ribu ton harus impor, kalau tidak orang akan marah. Itu setara 1,7 juta ekor setahun. Kenapa kita belum mampu siapkan itu?" kata dia dalam acara Indonesia Data and Economic Conference (IDE) 2020 di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (30/1).

Ia memaparkan, kebutuhan konsumsi sapi di Indonesia mencapai 700 ribu ton per tahun. Sedangkan produksi sapi dalam negeri hanya sebesar 400 ribu ton. Dengan demikian, maka ada selisih 300 ribu ton yang perlu disiapkan dengan cara mengimpor.

(Baca: Menteri Teten Ungkap Tiga Pengganjal Produksi Susu Sapi Indonesia)

Advertisement

Namun, ia menyatakan ketergantungan akan sapi impor ini tidak boleh terus terjadi. "Ini tidak boleh dibiarkan karena sudah sekian tahun, 10 tahun lebih kondisi ini kita alami," kata dia.

Berdasarkan data dari United Nations Comtrade, total volume impor daging sapi Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Volume impor daging sapi Indonesia pada 2017 mencapai 115,8 ribu ton, kemudian meningkat 38,8% menjadi 160,7 ribu ton pada 2018.

(Baca: Foto: Tertatih-tatih Melanggengkan Peternakan Leluhur di Lembah Lore)

Sedangkan nilai impor daging sapi pada 2017 mencapai US$ 466,8 juta, lalu naik 28,7% menjadi US$ 600,8 juta pada 2018. Sebagai informasi, impor daging sapi memiliki kode HS 0201 (daging binatang jenis lembu, segar atau dingin) dan kode HS 0202 (daging binatang jenis lembu, beku).

Tahun ini, pemerintah berencana untuk mengimpor 550 ribu ekor sapi bakalan guna menjaga harga.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait