Diterpa Aneka Masalah, Garuda Diprediksi Untung Lebih Rp 1,4 T di 2019

Prediksi ini sudah memperhitungkan potensi rugi penurunan nilai berkisar US$ 35-40 juta lantaran tak dibayarkannya biaya manajemen oleh Sriwijaya.
Martha Ruth Thertina
6 Januari 2020, 21:59
Garuda Indonesia, Laba Garuda 2019, kinerja keuangan garuda 2019
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Pesawat Garuda di Hangar GMF, Tanggerang, Banten.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) diprediksi meraup untung lebih dari US$ 100 juta atau Rp 1,4 triliun sepanjang 2019, berbalik dari kondisi rugi US$ 179,24 juta pada tahun sebelumnya. Prediksi ini sudah memperhitungkan potensi hilangnya pendapatan berupa biaya manajemen (management fee) dari Sriwijaya Group menyusul retaknya kerja sama dengan Garuda.

Prediksi tersebut disampaikan tim analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia. “Kami memprediksi perolehan US$ 112 juta lantaran kami konservatif dengan kemungkinan penyusutan pendapatan biaya manajemen dari joint operation antara GIAA dan Sriwijaya Group dan AR di GMF,” demikian tertulis, dalam riset tertulis Mirae, Senin (6/1).

(Baca: Kerja Sama dengan Sriwijaya Kandas, Kinerja Garuda Berpotensi Turun)

Tim riset Mirae mencatat, dalam paparan publik Garuda baru-baru ini, manajemen perusahaan menyebut kemungkinan rugi penurunan nilai dibukukan dalam laporan keuangan sembilan bulan pertama 2019. Hal ini seiring meningkatnya potensi tidak dibayarkannya biaya manajemen oleh Sriwijaya Group.

Advertisement

Rugi penurunan nilai diestimasi berkisar US$ 35-40 juta, setelah pajak. Rugi penurunan nilai ini tidak akan berdampak pada kinerja keuangan kuartal IV 2019, tapi akan mengurangi pendapatan dalam sembilan bulan pertama 2019 bila auditor setuju dengan hal itu.

Adapun untuk kuartal IV 2019, tim riset Mirae memperkirakan pendapatan US$ 1,4 miliar, naik 5,9% dari kuartal sebelumnya. Sedangkan laba bersih US$ 28,6 juta, turun 51,8% dibandingkan kuartal sebelumnya, karena efek musiman. Meski begitu, capaian ini membaik bila dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat rugi US$ 65 juta.

(Baca: Erick Thohir Akan Berikan Kejutan Saat Pemilihan Dirut Baru Garuda)

Tim riset Mirae mencatat beberapa perkembangan dari bisnis Garuda. Pertama, Garuda membukukan jumlah penumpang sebanyak 2,7 juta pada Oktober 2019, turun 11,1% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan yield sebesar US$ 7,6 cent, naik 18% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Kedua, terdapat 15 renegosiasi kontrak kepada penyewa pada 2019. Manajemen berekspektasi 10-15 renegosiasi lagi pada 2020. Garuda kemungkinan akan menambah jumlah pesawat yang beroperasi menjadi 204 unit pada 2020.

Ketiga, manajemen Garuda akan mematuhi regulasi pemerintah dalam soal harga, tapi penurunan lebih lanjut harga tiket pesawat hanya akan terjadi bila ada dukungan dari pemerintah.

Dengan prediksi dan perkembangan bisnis ini, tim riset Mirae mempertahankan rekomendasi beli atas saham Garuda. Meskipun, dengan target harga yang lebih rendah yakni Rp 690 per saham seiring prediksi penurunan pendapatan. Saat ini, saham Garuda berada di posisi Rp 494 per saham.

Garuda diprediksi membukukan pendapatan US$ 4,91 miliar pada 2019, naik 12,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan 2020 ini, pendapatan diprediksi US$ 5,33 miliar, atau naik 8,45% dari proyeksi pendapatan tahun lalu.

Tim riset Mirae menempatkan kemungkinan pergantian direksi pada akhir Januari sebagai risiko pemberat bagi Garuda, lantaran arah bisnis di bawah direksi baru belum terang.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait