Konflik AS-Iran, Ekonom Lihat Potensi Harga Minyak Capai US$ 100/Barel

Serangan AS berpotensi membuat Iran menutup Selat Hormuz sehingga 30% pasokan minyak dunia terhenti.
Image title
6 Januari 2020, 20:00
Harga Minyak, Konflik Iran-US, World War III
Dok. Chevron

Memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran berbuntut pada kenaikan cepat harga minyak dunia. Harga minyak dunia disebut berpotensi terus menanjak, dari posisi saat ini yang berada di kisaran US$ 60 per barel.

Konflik AS dan Iran memanas setelah militer AS melancarkan serangan udara di Baghdad, Irak yang menewaskan Mayor Jenderal Qassem Suleimani, Komandan Pasukan Elite Quds Iran. "Harga minyak bisa melambung tinggi, bisa ke level di atas US$ 100 per barel," kata Head of Research Division PT BNI Sekuritas Damhuri Nasution ketika ditemui di kawasan SCBD, Jakarta, Senin (6/1).

(Baca: Dampak Ekonomi Konflik AS-Iran, Harga Minyak hingga Bitcoin Melonjak)

Damhuri mengatakan, 30% minyak dunia mengalir melalui Selat Hormuz, yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab. Serangan AS tersebut berpotensi membuat Iran menutup Selat Hormuz dan membuat 30% pasokan minyak dunia menjadi terhenti. "Pasti akan memaksa harga minyak dunia melambung tinggi dan bisa berujung pada resesi ekonomi dunia," kata dia.

Ia menjelaskan, melambungnya harga minyak dunia ini akan berdampak langsung ke dalam negeri, berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), minimal yang tidak bersubsidi. Hal ini kemudian berdampak pada kenaikan inflasi. Dampak lainnya yaitu melebarnya defisit neraca dagang, yang artinya tekanan kepada nilai tukar rupiah. "Ini risiko kalau geopolitik terus memanas," ujarnya.

Adapun serangan AS yang menewaskan Qassem Suleimani berbuah serangan balasan dari Iran. Damhuri mengatakan, seiring kondisi yang memanas ini, investor melarikan investasi ke aset yang dianggap aman (safe haven) seperti emas. Harga minyak dunia pun tercatat mengalami kenaikan cepat. 

(Baca: Temui Dubes AS dan Iran, Menlu Retno Minta Kedua Negara Tahan Diri)

Saat berita ini ditulis, harga minyak Brent tercatat berada di posisi US$ 69,70 per barel, naik 1,6% dibadingkan penutupan hari sebelumnya. Jika dihitung sejak Jumat, 3 Januari lalu atau hari serangan AS ke Baghdad, kenaikan harga minyak telah mencapai 5,2%.

Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat  US$ 63,79 per barel, naik 1,17% dari posisi penutupan sehari sebelumnya. Jika dihitung sejak Jumat lalu, kenaikan harga minyak telah mencapai 4,26%.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait