Jokowi Akan "Gigit" Mafia Hukum yang Kriminalisasi Pejabat Inovatif

Jokowi mengatakan banyak pejabat yang berinovasi dalam menjalankan program strategis malah dijerat hukum oleh aparat.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
31 Oktober 2019, 16:56
Jokowi, aparat hukum
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan aparat hukum harus bisa menjamin kepercayaan diri para investor, pelaku industri, serta birokrat dalam berinovasi dan menjaga program-program pemerintah. Ia pun berharap aparat hukum tidak dibajak oleh para mafia sehingga program pemerintah terhambat.

"Jangan sampai para mafia yang menggigit dan menghadang program pembangunan justru terus berkeliaran. Enggak, ini harus kita balik hal ini," kata dia saat membuka rapat terbatas tentang program dan kegiatan di bidang politik, hukum, dan keamanan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10).

(Baca: Nur Pamudji, Merugikan atau Menguntungkan Negara?)

Ia mengatakan, selama ini, banyak pejabat yang berinovasi dalam menjalankan program strategis malah dijerat hukum oleh aparat. Padahal, mereka sama sekali tidak memiliki niat jahat. "Ini hati-hati, akan saya balik, akan saya gigit mereka," kata dia.

Jokowi mengatakan, tindakan aparat yang mencari-cari kesalahan ini membuat investor ragu akan kepastian hukum di Indonesia. Padahal, kepastian hukum ini penting untuk bisa meningkatkan jumlah investasi dari luar negeri ke Tanah Air.

Menurut dia, aparat hukum seharusnya mengusut perkara di mana para investor, pelaku industri, serta birokrat yang terlibat diketahui memiliki niat jahat. Dengan begitu, mereka yang berniat jahat tidak bisa melenggang bebas dari jeratan hukum.

(Baca: Menteri Luhut Pantau Langsung Semua Proyek Nilai di Atas US$ 1 Miliar)

Ia pun meminta jajarannya mengkaji kembali berbagai program yang banyak terkendala masalah hukum. Selain itu, masih terkait hukum, Jokowi meminta adanya rancangan reformasi hukum yang baik sehingga menjamin pelayanan kepada masyarakat.

"Terakhir, harus ada upaya yang serius untuk mencegah meluasnya apa yang sekarang ini banyak disebut, yaitu mengenai radikalisme," kata dia.

Video Pilihan

Artikel Terkait