Upaya Pemakzulan Presiden Trump Dimulai, Parlemen AS Gelar Investigasi

Trump dituding meminta Ukraina untuk menginvestigasi dugaan korupsi oleh rival politiknya Joe Biden, dengan ancaman menahan bantuan militer.
Martha Ruth Thertina
25 September 2019, 09:54
Trump, Donald Trump, Pemakzulan Trump, Impeachment Trump
REUTERS/Lucas Jackson/ANTARA FOTO
Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, saat konferensi pers di Trump Tower, New York, 11 Januari 2017.

Juru Bicara Parlemen Amerika Serikat (AS) yang juga politisi senior Partai Demokrat Nancy Pelosi mengumumkan bahwa parlemen telah membuka penyelidikan resmi terkait pemakzulan Presiden Donald Trump. Trump diduga telah meminta bantuan Ukraina untuk mengalahkan rival politiknya.

Pelosi menyebut Trump telah melakukan pelanggaran hukum yang serius dan melakukan pengkhianatan sumpah. “Pengkhianatan terhadap sumpahnya, pengkhianatan terhadap keamanan nasional, dan pengkhianatan terhadap integritas dari pemilu kita,” kata dia, Selasa (24/9) waktu setempat.

Upaya pemakzulan Trump ini dipicu oleh laporan dari whistleblower di kalangan intelijen yang mengeluhkan tentang pembicaraan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Isi pembicaraan telepon tersebut belum jelas.

Tapi, tudingannya, Trump mengancam untuk menahan bantuan militer kepada angkatan bersenjata Ukraina. Tujuannya, mendesak Ukraina menginvestigasi dugaan korupsi oleh rival politiknya yaitu mantan Wakil Presiden AS Joe Biden dan putranya Hunter.

Advertisement

(Baca: Trump Sanksi Bank Sentral Iran usai Serangan Kilang Minyak Saudi)

Trump mengakui berdiskusi dengan Zelensky mengenai Joe Biden, tapi menyatakan bahwa ancaman untuk menahan bantuan militer bertujuan untuk mendorong Asistensi Eropa.

Adapun upaya pemakzulan direspons Trump dengan serangkaian cuitan di Twitter miliknya. Ia menyebut upaya pemakzulan tersebut sebagai “sampah”. “Mereka tidak pernah melihat transkrip dari pembicaraan telepon itu,” kata dia. Ia berjanji akan membuka transkrip pembicaraannya untuk membuktikan bahwa isinya betul-betul sesuai.

Pemimpin Partai Republik di parlemen Kevin McCarthy menyatakan Pelosi sebagai juru bicara parlemen. “Tapi dia tidak berbicara untuk Amerika dalam isu ini,” ujarnya, seperti dikutip BBC. “Dia tidak bisa secara unilateral memutuskan kami dalam penyelidikan pemakzulan.”

(Baca: Infografik: Bisnis Keluarga Trump Menjangkau Indonesia)

Di sisi lain, Biden menyangkal telah melakukan pelanggaran dan mendukung proses pemakzulan, kecuali bila Trump dinyatakan tidak bersalah dari hasil investigasi. Ia mengatakan bahwa pemakzulan Trump adalah tragedi, “Tapi tragedi yang dibuatnya sendiri,” kata Biden seperti dikutip BBC.

Pengumuman Pelosi ini menandai dimulainya investigasi atas pembicaraan Trump dengan Zelenski. Adapun Pelosi menyatakan investigasi mengenai isu lainnya terkait Trump yang dilakukan komite kongres akan dilanjutkan dalam satu payung yakni penyelidikan resmi terkait pemakzulan.  

Mengutip BBC, jika langkah ini berlanjut, parlemen akan mengadakan pemungutan suara untuk setiap dakwaan. Dengan parlemen yang dikuasai Demokrat, proses ini semestinya bisa dilalui dengan mudah. Namun, kesulitan tampaknya akan muncul di tahap selanjutnya, yakni di senat. Dibutuhkan 2/3 suara dukungan dari senat untuk memakzulkan Trump, sedangkan Senat dipegang orang Republik.

Mengutip New York Times, langkah parlemen AS ini membuat Trump menjadi presiden ke-empat AS yang menghadapi pemakzulan. Presiden Andrew Johnson dan Bill Clinton juga pernah menghadapi pemakzulan, namun diselamatkan oleh Senat. Sedangkan Presiden Richard M. Nixon mundur dari posisinya di tengah voting parlemen untuk pemakzulan dirinya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait