Freeport Ajukan Tambahan Produksi 300 Ribu Ton Konsentrat

Ditjen Minerba masih mengevaluasi permintaan tersebut. Keputusan akan diberikan pada akhir Agustus.
Image title
25 Juli 2019, 19:37
pengajuan penambahan kuota ekspor Freeport dan produksi Freeport
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.

Freeport Indonesia mengajukan tambahan kuota produksi untuk tahun ini. Pengajuan ini seiring optimalisasi di tambang Grasberg, Papua. Freeport juga mengajukan tambahan kuota ekspor.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Bambang Gatot Ariyono mengatakan kuota produksi yang diajukan sebesar 200 ribu hingga 300 ribu ton. Namun, ia belum bisa memastikan mengenai kuota ekspor yang diminta.

Saat ini, permintaan tersebut masih dievaluasi. “Keputusan akhir Agustus,” ujarnya di Jakarta, Kamis (25/7). Sejauh ini, Freeport memiliki kuota ekspor sebesar 198 ribu yang berlaku hingga 8 Maret 2020.

(Baca: Inalum Kaji Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia)

Berdasarkan laporan Freeport Mc Moran, Freeport Indonesia telah memproduksi 7.400 metrik ton bijih per hari pada kuartal I 2019, sedangkan untuk kuartal II diperkirakan naik menjadi 15 ribu metrik ton bijih per hari. Produksi digadang-gadang bakal semakin besar ke depan seiring pengoperasian tambang bawah tanah.

Ekspansi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah diharapkan dapat mempercepat laju produksi dari rata-rata 30 ribu metrik ton bijih per hari pada 2020 menjadi 130.000 metrik ton bijih per hari.

(Baca: Freeport Targetkan Konstruksi Smelter di Gresik Dimulai Tahun Depan)

Kemudian, untuk ekstraksi bijih di Zona Tingkat Penggalian Dalam (DMLZ) rata-rata 7.700 metrik ton bijih per hari pada kuartal kedua 2019 dan diperkirakan akan meningkat hingga 11.000 metrik ton bijih per hari pada akhir 2019.

Freeport Indonesia diperkirakan mengeluarkan biaya rata-rata US$ 0,7 miliar per tahun pada periode 2019-2022, untuk pengembangan tambang bawah tanahnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait