Kementerian ESDM Cabut Izin Ekspor dan Usaha Gunung Bintan Abadi

Izin ekspor dicabut karena progres pembangunan smelter tidak sesuai target. Sedangkan izin usaha dicabut karena adanya pelaggaran mekanisme bisnis.
Image title
6 Mei 2019, 15:50
Kementerian ESDM mencabut izin ekspor dan izin usaha tambang bauksit Gunung Bintan Abadi.
Arief Kamaludin | Katadata
Kementerian ESDM mencabut izin ekspor dan izin usaha pertambangan PT Gunung Bintan Abadi

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencabut izin ekspor dan izin usaha pertambangan (IUP) PT Gunung Bintan Abadi (GBA). GBA merupakan perusahaan yang memproduksi bauksit, di Bintan, Kepulauan Riau.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan izin ekspor dicabut sejak Maret 2019. GBA memiliki izin ekspor bauksit sekitar 1,2 juta ton setahun. Pencabutan izin lantaran progres pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tak sesuai target.

Menurut Yunus, sebelum izin tersebut dicabut, GBA telah mendapatkan beberapa kali teguran agar bisa mengejar target pembangunan smelter. "Sudah diperingatkan satu dua kali," kata dia di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/5).

(Baca: Mengejar Dalang Pertambangan Bauksit Ilegal di Bintan)

Advertisement

Selain mencabut izin ekspor, Kementerian ESDM mencabut IUP GBA. Penyebabnya, perusahaan telah menerima hasil produksi dari perusahaan tambang lain tanpa adanya kerja sama.

Selain GBA, terdapat lima perusahaan tambang yang ekspornya diberhentikan untuk sementara. Pertama, PT Surya Saga Utama yang memproduksi nikel. Perusaaan ini berada di Bombana, Sulawesi Tenggara. Kedua, PT Genba Multi Mineral, yang terletak di Morowali, Sulawesi Tengah, juga memproduksi nikel.

(Baca: ESDM Terbitkan Rekomendasi Ekspor 28 Juta Ton Mineral Tahun Ini)

Ketiga, PT Modern Cahaya Makmur yang beroperasi di Konawe, Sulawesi Tenggara, memproduksi nikel. Keempat, PT Lobindo Nusa Persada yang berada di Bintan, Kepulauan Riau, memproduksi bauksit. Terakhir, PT Integra Mining Nusantara, memproduksi nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Yunus mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi ulang terhadap progres pembangunan smelter dari perusahaan-perusahaan yang izin ekspornya dihentikan sementara. “Kalau dia mempercepat progres, bisa mengajukan permohonan lagi," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait