Ketimbang Utang, BUMN Diminta Sekuritisasi Aset untuk Cari Dana

“Obligasi korporasi sudah mentok karena overleveraged, suntik modal dari pemerintah juga berat,” kata Kepala Ekonom BCA David Sumual.
Martha Ruth Thertina
Oleh Martha Ruth Thertina
31 Agustus 2017, 16:54
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Jasa Marga Tbk. (Persero) baru saja menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) senilai Rp 2 triliun. Aksi korporasi tersebut mendapat sambutan positif dari ekonom. Sebab, tidak banyak pilihan mencari pendanaan saat ini.

“Obligasi korporasi sudah mentok karena overleveraged, suntik modal dari pemerintah juga berat,” kata Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada Katadata, Kamis (31/8). (Baca juga: Diluncurkan Jokowi, Peminat Sekuritisasi Tol Jagorawi Membeludak)

Melalui penerbitan KIK EBA, perusahaan bisa mendapatkan pendanaan dari investor dengan mengagunkan asetnya. Jasa Marga misalnya, mengagunkan pendapatan masa depannya di Tol Jagorawi (Future Revenue Based Securities/FRBS). Dana segar yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung pembangunan 16 jalan tol hingga 2019 mendatang.

David menjelaskan, selain KIK EBA, BUMN sebetulnya memiliki alternatif pendanaan lain, yaitu dengan melakukan penerbitan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) bagi yang belum melantai di bursa, dan penerbitan saham atau rights issue untuk yang sudah melantai di bursa. 

Namun, aksi korporasi tersebut tidak mudah lantaran harus atas persetujuan parlemen. Maka itu, solusi tersebut lebih diutamakan untuk anak usaha BUMN yang notabene-nya bukanlah BUMN. “Disiasati ke anak-anak usaha untuk IPO, rights isu,” ujarnya.

David pun menyebut KIK EBA sebagai instrumen investasi yang potensial bagi investor. Sebab, risikonya kecil, lantaran aset yang diagunkan adalah aset yang sudah menghasilkan, bukan proyek yang baru mau berjalan. “Investor lebih tertarik, cashflow sudah bagus,” ujarnya. Apalagi, imbal hasil (return) yang ditawarkan pasti lebih tinggi dari obligasi pemerintah.  

Atas dasar itu, ia pun menyarankan agar BUMN lainya yang membutuhkan pendanaan untuk melakukan langkah serupa. Adapun aset yang bisa diagunkan beragam. “PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), jalan tol, pelabuhan, fasilitas publik yang cashflow sudah jelas,” ujarnya.

Rencananya, PT PLN (Persero) akan menyusul Jasa Marga menerbitkan KIK EBA pada September. PLN akan mengagunkan pendapatan dari pembangkit listrik yang dioperasikan dan dibangun sendiri olehnya. (Baca juga: Setelah Jasa Marga, PLN Akan Sekuritisasi Pembangkit Pada September)

PLN menargetkan perolehan dana segar sebanyak Rp 5-10 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk merevitalisasi pembangkit-pembangkit yang sudah tua di kawasan PLTU Suralaya. 

Video Pilihan

Artikel Terkait