Garam Langka, Pemerintah Impor 75 Ribu Ton Dari Australia

Produksi garam diproyeksi kembali stabil pada September nanti. "Cuma November-Desember biasanya hujan. Nah itu akan kami lihat lagi," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan.
Desy Setyowati
28 Juli 2017, 20:19
garam langka
ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Petani panen perdana garam pada musim olah tahun ini di Desa Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Jatim, rabu (5/7).

Pemerintah akhirnya menugaskan PT. Garam untuk mendatangkan 75 ribu ton garam konsumsi dari Australia. Langkah tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan garam sekaligus menstabilkan harganya. Rencananya, garam impor tersebut akan sampai di Tanah Air melalui tiga pelabuhan besar yaitu pelabuhan Ciwandan, Banten; Tanjung Priok, Jakarta; dan Belawan, Medan pada 10 Agustus mendatang.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, harga garam melonjak lantaran produksi garam terganggu akibat curah hujan yang cukup tinggi. "Ini situasi khusus," kata dia saat Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Jumat (28/7). (Baca juga: Kepala Daerah Lapor Garam Langka, Jokowi Tunggu Penjelasan Menteri)

Adapun pemerintah memiliki jatah impor garam konsumsi sebanyak 226.124 ton tahun ini. Namun, Oke memastikan kebijakan impor akan dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menganggu produksi garam di dalam negeri. Pemerintah tidak akan melakukan impor lagi bila produksi garam di dalam negeri sudah kembali normal.

Prediksi dia, produksi garam kembali stabil pada September nanti. Prediksi tersebut dengan mempertimbangkan cuaca saat ini yang sudah memasuki periode kering. "Cuma November-Desember biasanya hujan. Nah itu akan kami lihat lagi," ucapnya. (Baca juga: Pengusaha Tunggu Langkah Pemerintah Atasi Kelangkaan Garam)

Di sisi lain, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Brahmantya Satyamurti Poerwadi menjelaskan, curah hujan mencapai 150 milimeter (mm) per detik. Alhasil, masa panen dilakukan hanya 4-5 hari dari semestinya 10 hari.

Produksi garam rakyat pun anjlok dari normalnya sebesar 166 ribu ton per bulan menjadi hanya 6,2 ribu ton per bulan. Akibat turunnya pasokan, harga garam di sejumlah daerah melonjak tinggi. Berdasarkan pantauan Katadata di Pasar Ciputat beberapa hari lalu, sebungkus garam 150 gram dijual dengan harga Rp 2.000. Sebelum kelangkaan, dengan biaya Rp 2.000 bisa mendapatkan tiga bungkus garam 150 gram.

Ke depan, untuk menjaga pasokan garam tetap stabil, Kementerian Kelautan bakal fokus dalam program pengembangan usaha garam rakyat (pugar). Dalam program tersebut, kementerian juga membangun gudang untuk menyimpan hasil produksi garam rakyat.

Video Pilihan

Artikel Terkait