Kementerian BUMN Benarkan Dirut Bahana Akan Lengser

Pejabat Kementerian BUMN membantah Dirut PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia Dwina Septiani Wijaya bakal dicopot akibat beredarnya riset anak usaha yang menyinggung soal reshuffle kabinet.
Miftah Ardhian
19 Juli 2017, 19:04
Gedung Kementerian BUMN
Arief Kamaludin|KATADATA

Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Imam A. Putro membenarkan soal kabar yang santer beredar bahwa Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Dwina Septiani Wijaya kemungkinan akan meninggalkan jabatannya. Namun, alasan lengsernya Dwina akibat masa jabatannya yang akan segera habis.

Pernyataan Imam tersebut sekaligus menepis kabar bahwa Dwina bakal dicopot dari jabatannya akibat beredarnya riset anak usaha BPUI, yaitu PT Bahana Sekuritas yang menyinggung soal reshuffle kabinet. "Kalau Bu Dwina itu kan terkait masa jabatan. Jadi jangan dikait-kaitkan dengan satu hal itu," ujar Imam kepada Katadata, Jakarta, Rabu (18/7).

Meski begitu, Imam tidak bisa menjelaskan lebih lanjut kapan jabatan Dwina tersebut akan berakhir. Yang jelas, Dwina menjabat sebagai Dirut BPUI sejak 5 Juni 2013. Ini artinya, Dwina akan habis masa jabatan pada Juni 2018. Meski begitu, Dwina sebetulnya bisa saja diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan.

Sebelumnya beredar info Menteri BUMN Rini Soemarno tidak senang dengan riset Bahana Sekuritas yang diedarkan kepada para kliennya pada 12 Juli lalu terkait reshuffle kabinet. Alasannya, riset itu cenderung spekulatif dan tanpa didukung bukti yang kuat sehingga dapat mempengaruhi para investor.

Apalagi riset tersebut berisi  informasi pencopotan Rini dari kursi Menteri BUMN. Riset yang menjadi biang masalah ini bertajuk “3rd Cabinet Reshuffle, It’s now or never”, yang disusun Bahana Sekuritas bersama Daiwa Capital Markets bertanggal 12 Juli 2017. Dalam risetnya, analis Bahana Sekuritas Harry Su menulis, kemungkinan Presiden Joko Widodo melakukan reshuffle untuk menyambut pemilihan umum tahun 2019.

Menurut dia, meski wajah baru menteri dan rotasi anggota kabinet belum mengerucut, pelaku pasar berspekulasi ada sekitar 9-10 posisi menteri yang akan terkena reshufflePertama, Menteri BUMN Rini M. Soemarno kemungkinan akan menggantikan posisi Teten Masduki sebagai Kepala Staf Kepresidenan. (Baca juga: Sinyal Reshuffle Menguat, PDIP "Incar" Kursi Menteri BUMN)

Kedua, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kemungkinan akan menggantikan Darmin Nasution sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Ketiga, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan kemungkinan juga dapat menggantikan Darmin, atau kembali lagi ke posisinya semula sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan yang saat ini diduduki oleh Wiranto.

Keempat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan akan menjadi Menteri BUMN menggantikan posisi Rini. Selanjutnya, Arcandra Tahar naik menggantikan posisi Jonan. Kelima, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin digantikan oleh petinggi Nahdlatul Ulama (NU), Yahya Cholil Staquf. “Keputusan ini sejalan dengan dukungan NU kepada Presiden untuk melawan Islam radikal,” kata Harry. (Baca juga: Diterpa Isu Reshuffle, Menteri Lukman Pilih Fokus Bekerja)

Berdasarkan risetnya, Harry menyatakan reshuffle kabinet itu tidak akan berdampak signifikan terhadap bursa saham. Prospek harga saham tetap netral meskipun cenderung positif. Ia pun tetap meyakini target indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini mencapai 6.300. 

Reporter: Miftah Ardhian

Video Pilihan

Artikel Terkait