10 Pengusaha Australia Janjikan Jokowi Investasi Rp 66 Triliun

Komitmen investasi tersebut untuk sektor pertambangan dan pengolahan, industri makanan dan minuman, pariwisata dan perhotelan, serta infrastruktur.
Martha Ruth Thertina
27 Februari 2017, 11:16
Jokowi Bertemu Investor Australia
BKPM
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan pengusaha Australia di Sidney, Australia, Sabtu (25/2).

Sebanyak 10 perusahaan besar Australia berencana melakukan investasi baru dan perluasan usaha di Indonesia. Hal tersebut disampaikan para petinggi perusahaan itu dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sidney, Australia, Sabtu (25/2) lalu.

Mengacu pada siaran pers Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), minat investasi perusahaan-perusahaan tersebut berkisar US$ 4-5 miliar atau setara Rp 53 triliun hingga Rp 66 triliun. Minat investasinya pada berbagai sektor yaitu pertambangan dan pengolahan, industri makanan dan minuman, sektor pariwisata dan perhotelan, serta infrastruktur.

BKPM merinci, salah satu investor di sektor perhotelan yang memiliki 8.000 jaringan hotel di seluruh dunia, termasuk 1.200 jaringan di Cina, berencana meningkatkan jaringan hotelnya di Indonesia dari hanya 10 jaringan menjadi 100 dalam 3-4 tahun ke depan. Selain itu, perusahaan pembiayaan investasi juga mengemukakan rencananya untuk mendanai proyek pembangkit listrik tenaga terbarukan berkapasitas 200 megawatt.

(Baca juga: Tak Capai Target, BPS: Turis Asing Selama 2016 Capai 11,5 Juta)

Dalam pertemuan itu, Jokowi pun menyatakan perbaikan iklim investasi di Indonesia. Menurut dia, Indonesia tengah menikmati iklim investasi yang positif. Hal itu juga diakui lembaga pemeringkat internasional yaitu Moody’s dan Fitch Ratings dengan menaikkan status utang jangka panjang Indonesia dari "Stabil" ke "Positif".

“Presiden juga menyampaikan indeks kepercayaan publik yang dilakukan lembaga konsultan komunikasi Edelman juga menempatkan kenaikan trust index sebesar 7 poin menjadi 69 persen,” begitu tertulis dalam siaran pers BKPM yang diterima Katadata, Minggu (26/2).

Menurut Jokowi, perbaikan iklim investasi juga diakui oleh Bank Dunia yang ditandai dengan lompatan kenaikan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business) sebanyak 15 peringkat dari posisi 106 ke posisi 91 dunia.

Jokowi juga menyampaikan proses reformasi birokrasi yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia untuk mempermudah investasi dan mendukung tercapainya kesepakatan dagang Indonesia-Australia: IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement).

Perundingan IA-CEPA sendiri telah melalui enam kali perundingan, perundingan ke-6 digelar di Canberra, pada 20 – 24 Februari 2017, sebelum lawatan Jokowi ke Sidney. Kesepakatan tersebut ditargetkan selesai tahun ini. (Baca juga: Jokowi Kawal Langsung Perundingan Dagang Indonesia – Australia)

Kepada para pengusaha, Jokowi pun meminta masukan agar bisa membantu kelancaran investasi mereka di Indonesia. "Saya ingin mendengar dari Anda, bagaimana perkembangan investasi yang telah atau akan dilakukan dan bagaimana saya dan Menteri saya dapat membantu," ujar Jokowi  saat membuka diskusi dengan para CEO di Sidney, Sabtu (25/2).

Mengacu pada survei Austrade yaitu instansi pemerintah Australia yang bertugas menarik investasi dari dan ke dalam Australia, Indonesia berada di peringkat 5 besar prioritas investasi pengusaha Australia. Meski begitu, mengacu pada data BKPM, realisasi investasi dari Australia Cuma naik tipis yaitu 4 persen dari US$ 167 juta pada 2015 menjadi US$ 174 juta tahun lalu.

Sekadar informasi, pertemuan dengan pengusaha Australia tersebut juga dihadiri Austrade, asosiasi bisnis seperti Asia Society dan lembaga think thank seperti Lowy Insitute. Adapun dari sisi Indonesia, hadir pula Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, Sekretaris Kabinet, Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif. Selain itu, ada juga Ketua KADIN dan Ketua HIPMI.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait