Kuliah Umum di BI, Habibie Soroti Rendahnya Produktivitas Indonesia

"Pesawat M80 adalah pertama di dunia dan direkayasa manusia dengan kecepatan baik sampai hari ini. Itu membuktikan kinerja, bukan hanya Habibie. Eh baru begitu, dibubarkan."
Desy Setyowati
13 Februari 2017, 19:19
Bank Indonesia
Arief Kamaludin | Katadata

Presiden Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie menyoroti rendahnya produktivitas masyarakat di dalam negeri. Hal tersebut terlihat dari jam kerja yang lebih rendah dibanding negara lain. Alhasil, daya saing Indonesia  lemah di kancah internasional.

Ia menjelaskan, untuk mampu bertahan menghadapi beragam gejolak global, daya saing di dalam negeri perlu diperkuat. Gejolak global seperti yang terjadi akibat kebijakan Presiden baru Amerika Serikat (AS) Donald Trump, tak akan merugikan Indonesia, sepanjang pemerintah mendorong produksi di dalam negeri.

"Selama Anda mempertahankan produk dalam negeri, itu tidak akan merugikan," kata Habibie dalam acara Presidential Lecture bertema "Peningkatan Daya Saing Indonesia melalui Penciptaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang Berkualitas" di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (13/2). 

Habibie mengapresiasi naiknya jumlah beasiswa yang diberikan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), misalnya, telah memberikan beasiswa kepada 16.293 mahasiswa sejak 2012.

Kondisi tersebut, menurut dia, lebih baik dari masanya. Namun, sayangnya, hal tersebut tak juga mendorong peningkatan produktivitas masyarakat di dalam negeri.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu memastikan lapangan pekerjaan selalu terbuka bagi masyarakat. Dengan begitu, produktivitas akan berjalan dan dalam jangka panjang akan mendorong daya saing Indonesia.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah  meningkatkan anggaran untuk riset dan pengembangan. Jadi, persoalannya dulu tidak terulang, yaitu ketika ia berhasil membangun pesawat namun kemudian industrinya dihentikan.

"Pesawat M80 adalah pertama di dunia dan direkayasa manusia dengan kecepatan yang baik sampai hari ini. Itu membuktikan kinerja, bukan hanya Habibie. Eh baru begitu, dibubarkan," tutur dia. (Baca juga: CN-245, Pesawat Baru PTDI Siap Mengudara pada 2018)

Di sisi lain, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan, beberapa indikator perekonomian domestik telah menunjukkan perbaikan. Hal tersebut membuat Indonesia jadi lebih kuat menghadapi gejolak ekonomi global. (Baca juga: Gubernur BI Ungkap Dua Faktor Penyebab Rupiah Bergerak Stabil)

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami surplus US$ 12 miliar pada 2016, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang defisit US$ 1,1 miliar. Begitu pula dengan defisit transaksi berjalan yang menyusut menjadi 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

NPI merupakan indikator kegiatan transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dengan penduduk mancanegara. Transaksi NPI ini didapat dari data transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi finansial masyarakat Indonesia. Sedangkan transaksi berjalan merupakan indikator ekspor-impor barang dan juga jasa dari Indonesia ke negara lain.

"Defisit transaksi berjalan bisa kami kendalikan bahkan pada Kuartal IV menunjukkan kondisi terbaik selama ini," kata Agus. Pada Kuartal IV 2016, defisit transaksi berjalan hanya 0,8 persen terhadap PDB, atau yang terendah selama lima tahun belakangan. (Baca juga: Ketidakpastian Global, Pengusaha Garap Pasar Timur Tengah dan Afrika)

Lebih jauh, Agus juga menyebut soal pertumbuhan ekonomi domestik yang sebesar 5,02 persen, lebih tinggi dibanding negara tetangga. Di sisi lain, inflasi terjaga di level yang rendah hanya 3,02 persen. Dengan pencapaian itu, pendapatan masyarakat tidak tergerus oleh naiknya harga barang dan jasa. Kondisi ini diharapkan bisa mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait