Bitcoin Kian Populer, Kepala BKPM Ingatkan Inovasi Harus Dirangkul

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, di era teknologi internet, akan sulit membatasi masyarakat untuk tidak menggunakan mata uang digital.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
6 Desember 2017, 18:01
Bitcoin
Wikimedia

Bitcoin dan mata uang digital lainnya semakin populer di tengah masyarakat. Merespons hal tersebut, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menilai kehadiran mata uang digital tidak bisa dihindari seiring dengan semakin berkembangnya teknologi.

"Jadi, inovasi tidak bisa dihindari, seperti kata Presiden Joko Widodo (Jokowi), itu harus dirangkul, harus dikapitalisasi, kalau tidak bisa tertinggal," kata Lembong saat ditemui di Hotel Ritz-Charlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (6/12). (Baca juga: Ditjen Pajak: Keuntungan Bitcoin Kena Pajak dan Dilaporkan di SPT)

Lembong mengatakan, pada dasarnya, dirinya mendukung terciptanya inovasi baru termasuk bitcoin. Ia pun menilai keberadaan bitcoin harus dijadikan 'alarm' bagi industri jasa keuangan. Sebab, teknologi bitcoin memiliki kelebihan di antaranya transfer tanpa biaya.

Menurut dia, kelebihan tersebut membuat masyarakat mulai banyak yang menggunakan mata uang digital. Seiring dengan makin banyaknya pengguna, harga mata uang digital pun terus meroket. Sepanjang tahun ini, harga bitcoin telah melonjak lebih dari 1.000%. (Baca juga: Bahaya Bitcoin Bubble, Investor Retail Disarankan Tak Bertaruh Besar)

Selain itu, Lembong menilai, kehadiran Bitcoin ini juga dapat menjadi 'alarm' bagi regulator di bidang keuangan maupun moneter bahwa terdapat inovasi yang masih belum diregulasi. Ia mengatakan, di era teknologi internet, akan sulit membatasi masyarakat untuk tidak menggunakan mata uang digital.

"Ini harus menjadi wake up call bagi financial regulator dan moneter regulator, bahkan di seluruh dunia," ucapnya. 

Namun, ia mengakui inovasi baru kerap menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ia pun mencontohkan protes pengusaha kereta kuda ketika hadirnya mobil. Ketika berkembangnya telepon selular juga terjadi polemik lantaran dinilai bakal menghancurkan bisnis telepon kabel.

Video Pilihan

Artikel Terkait