Bahaya Bitcoin Bubble, Investor Retail Disarankan Tak Bertaruh Besar

“Sepertinya halnya semua bubble, itu akan pecah. (Harganya) akan jatuh dan yang terakhir berinvestasi bakal paling sakit,” kata Ekonom Stephen Roach.
Martha Ruth Thertina
Oleh Martha Ruth Thertina
5 Desember 2017, 11:51
Bitcoin
wikimedia.org

Lonjakan harga mata uang digital bitcoin jadi sorotan banyak pihak. Manajer investasi kawakan Michael Novogratz memprediksi harga bitcoin akan dengan mudah menembus US$ 40 ribu atau sekitar Rp 540 juta tahun depan. Harga tersebut empat kali lipat dari saat ini. Namun, sejumlah pihak menyebut lonjakan yang terjadi sebagai bubble alias gelembung harga yang berbahaya.

Peringatan soal gelembung harga disampaikan ekonom paling berpengaruh versi Wall Street, Stephen Roach. “Ini bubble akibat spekulasi yang berbahaya,” kata dia seperti dilansir CNBC. “Saya tidak pernah melihat grafik harga suatu sekuritas yang memiliki pola vertikal. Dan bitcoin adalah yang paling vertikal dari semua pola yang pernah saya lihat sepanjang karir,” ucapnya.

(Baca juga: Sebagian Besar Transaksi Bitcoin di Indonesia untuk Spekulasi

Mengacu pada coindesk.com, harga bitcoin meroket tajam sejak awal tahun ini. Di penghujung Senin (4/12), harga bitcoin tercatat US$ 11.616 alias melonjak 1.100% dibandingkan harga di akhir tahun lalu yaituUS$ 968. Lonjakan harga disebut-sebut terjadi sering masuknya pemain-pemain besar seperti perusahaan pengelola dana (hedge fund).

Ke depan, pemain-pemain besar dari institusi digadang-gadang bakal semakin banyak masuk seiring dibukanya perdagangan berjangka bitcoin di Amerika Serikat (AS). Sebanyak tiga bursa AS yaitu Chicago Board Options Exchange (CBOE), The Chicago Mercantile Exchange (CME), dan Nasdaq bersiap membuka bursa berjangka bitcoin pada Desember ini. Perdagangan pertama bakal dilakukan oleh CBOE pada Senin (11/12) mendatang.  

Roach yang sempat berkarier selama 30 tahun di bank investasi Morgan Stanley melihat legitimasi bursa justru membuat bitcoin berbahaya untuk investor lantaran membuat “kurangnya nilai ekonomi intrinsik yang mendasari konsep tersebut.” Ia pun memperingatkan, “Sepertinya halnya semua bubble, itu akan pecah. (Harganya) akan jatuh dan yang terakhir berinvestasi bakal paling sakit.”

(Baca juga: Bitcoin Makin Populer, Ini Beberapa Cara Memilikinya)

Sementara itu, Novrogats yang memprediksi harga bitcoin bakal menembus US$ 40.000 pada tahun depan, mengaku sebanyak 20-30% kekayaan bersihnya dalam bentuk mata uang digital yaitu bitcoin dan ethereum. Namun, ia menyarankan agar investor retail tidak berinvestasi lebih dari 1-3% dari total kekayaan bersihnya di mata uang digital. Sedangkan investor yang lebih kaya disarankan tidak menaruh lebih dari 5-10% dari total kekayaannya di uang digital.

Video Pilihan

Artikel Terkait