Startup Singapura Rilis Kartu Bitcoin untuk Belanja di Toko Retail

Dengan kartu Visa keluaran startup Singapura TenX, pemilik mata uang digital bisa membelanjakan uang digitalnya di berbagai merchant di “dunia nyata”.
Martha Ruth Thertina
Oleh Martha Ruth Thertina
24 Juli 2017, 13:17
Kartu
ANTARA FOTO/M.N. Kanwa
Salah satu transaksi pembayaran nontunai menggunakan kartu elektronik

Pamor bitcoin dan uang digital lainnya makin menanjak. Namun, penggunaan uang tersebut masih terbatas di dunia maya. Kini, perusahaan startup asal Singapura, TenX, menawarkan kartu Visa yang bisa mengonversi beragam uang digital menjadi dolar, yen dan euro sehingga bisa digunakan untuk transaksi di dunia nyata.

TenX menyediakan aplikasi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan uang digital alias dompet digital. Dompet digital tersebut terkoneksi dengan kartu Visa keluaran TenX sehingga ketika kartu digesek di mesin Electronic Data Capture (EDC) maka uang digital akan terkonversi dalam mata uang lokal.

Dengan mekanisme itu, pemilik uang digital bisa membelanjakan uang digitalnya di kafe, restoran, dan merchant lainnya. Adapun layanan yang ditawarkan TenX ini muncul di tengah gejolak nilai mata uang digital dan perjuangan komunitas penemu dan pengguna mata uang tersebut. Sebelumnya, nilai bitcoin sempat anjlok setelah mencapai nilai tertingginya pada Juni lalu.

Pendiri TenX, Julian Hosp menyebut mekanisme yang ditawarkannya seperti menggabungkan dua dunia yang terpisah. “Ketika penggunanya membayar dengan uang digital, kami harus mengonversinya secara instan menjadi uang fiat dan dalam waktu seketika membayar ke Visa. Alur yang harus dilalui banyak,” kata dia seperti dikutip Bloomberg, Senin (24/7).

Saat ini, ada delapan mata uang digital yang bisa difasilitasi kartu tersebut, termasuk yang belum terlalu terkenal seperti dash dan augur. Pada akhir tahun, jumlah uang digital yang difasilitasi ditargetkan bertambah menjadi 11 macam. 

TenX mengklaim telah menerima lebih dari 10 ribu pesanan kartu Visa terkait. Meski begitu, nominal transaksi dengan kartu tersebut masih terbatas yaitu sebesar US$ 2 ribu setahun. Adapun, perusahaan memotong biaya sebesar 2% dari tiap transaksi.

Sejauh ini, perusahaan menyatakan nilai transaksi yang diprosesnya mencapai US$ 100 ribu dalam sebulan. Di akhir 2018, perusahaan menargetkan ada satu juta pengguna kartu dengan nilai transaksi mencapai US$ 100 juta per bulan.

Analis di perusahaan penyedia platform perdagangan sosial eToro, Mati Greenspan mengatakan TenX memiliki keunggulan lantaran bergerak di layanan tersebut lebih awal. Tapi, TenX mungkin saja bakal menemukan pesaing kuat di masa depan dari institusi finansial dan perusahaan ventura berkocek tebal.

“Ini konsep yang luar biasa. Tapi pada akhirnya, ini akan banyak bergantung pada kemampuan mereka dalam membangun hubungan dengan pelanggan. Apakah mereka bisa memenuhi harapan pelanggan? Bisakah orang lain melakukannya dengan lebih baik?” ucapnya seperti dikutip Bloomberg.

Soal permodalan, Julian mengatakan, dalam penjualan tokennya bulan lalu, TenX memperoleh US$ 80 juta dan separuhnya akan digunakan untuk memperluas operasionalnya. Sisanya, akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan likuiditas untuk pertukaran uang digital.

Sebelumnya, perusahaan juga telah mendapat tambahan US$ 120 ribu dari angel investors dan pendanaan awal sebesar US$ 1 juta dari para investor yang dipimpin oleh perusahaan ventura Fenbushi Capital. Adapun, TenX belum mengharapkan keuntungan dalam dua tahun ke depan. Sebab, perusahaan masih berfokus untuk memperluas layanannya.

“Pada akhirnya, satu hal yang kami ingin tawarkan adalah bahwa Anda bisa menukar uang digital melalui aplikasi,” kata Julian. ‘Jika kami melakukan ini, kami bisa menjadi pemain di pasar dan ini akan membawa banyak pendapatan bagi kami.

Video Pilihan

Artikel Terkait