Strategi Klub E-Sports Papan Atas Membangun Tim Jawara

E-sports bukan olah raga main-main, meskipun yang dipertandingkan gim. Klub e-sports profesional merancang metode latihan dengan disiplin.
Martha Ruth Thertina
27 April 2020, 14:00
e-sports, mobile legends, evos, rrq
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Tim Onic Esports merayakan gelar juara usai mengalahkan Louvre Juggernaut pada final Piala Presiden Esports 2019 di Istora Jakarta, Minggu (31/3).

Duel sengit el clasico kembali terjadi pada puncak turnamen Mobile Legends Professional League atau MPL Season 5, awal April lalu. Dua klub e-sports papan atas Evos dan Req Regum Qeon alias RRQ yang bertemu pada grand final season sebelumnya kembali “berjodoh” pada grand final season ini. Siaran langsung pertandingan diserbu para gamers hingga mencetak rekor lebih dari 1 juta penonton.

Pertandingan berujung kemenangan untuk tim RRQ Hoshi terhadap tim Evos Legends. Kemenangan ini membalas kekalahan pada season sebelumnya. Dengan capaian ini, RRQ mendominasi kemenangan di ajang MPL, dengan total dua kali menang. Terakhir kali, RRQ menjuarai season 2 yang dihelat 2018 lalu.

Kedua tim akan mewakili Indonesia di Mobile Legends South East Asia Cup alias MSC 2020 pada Juni mendatang di Filipina. Pertengahan tahun lalu, kejuaraan yang sama digelar di Malaysia dan dimenangkan klub e-sports lainnya asal Indonesia yaitu Onic e-sports setelah berhasil memenangkan MPL season 3.

Di tahun yang sama, RRQ dan Evos bertemu di grand final Mobile Legends World Championship alias M1, setelah memuncaki MPL season 4, dengan kemenangan disabet Evos. “Target kami tahun ini juara dunia,” kata CEO RRQ Adrian Pauline dalam wawancara dengan katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Industri e-sports di Tanah air berkembang pesat, terutama dalam tiga tahun belakangan. Banyak klub e-sports lahir dan beberapa jadi pesaing kuat. Onic yang baru memasuki usia ketiga -- relatif lebih muda dibandingkan Evos yang memasuki tahun kelima dan RRQ tahun kedelapan-- sukses memenangkan MPL season 3, MSC 2019, dan Piala Presiden 2019 yang membawanya mewakili Indonesia bersama Evos di Sea Games 2019.

Seiring rentetan prestasi yang diraih, Onic disebut-sebut banyak dilirik investor. Bila Evos yang berdiri sejak 2016 sukses mendapatkan pendanaan antara lain dari perusahaan modal ventura yang berbasis di Singapura Insignia Ventures Partner, Onic mendapatkan kucuran dana dari perusahaan modal ventura dalam negeri Agaeti Venture Capital pada tahun lalu.

E-sports di Tanah Air memang masih muda sehingga pasarnya belum maju seperti di Amerika atau Eropa. Namun, perkembangan menjanjikan seiring peminat yang terus tumbuh. Ini di antaranya terlihat dari ramainya jumlah penonton langsung maupun streaming turnamen-turnamen e-sports dan konten e-sports lainnya. Babak playoff MPL season 5 lalu, misalnya, selalu ramai ditonton.

Bila mengacu pada data dalam situs Pengurus Besar E-sports Indonesia, terdapat 20 klub e-sports profesional yang terdaftar. Selain itu, kejuaraan-kejuaraan e-sports juga diramaikan tim-tim yang belum tergabung dalam klub profesional. Tim-tim jawara biasanya berujung diakuisisi klub dengan tawaran gaji yang fantastis.

Sejauh ini, pengembangan e-sports di Indonesia ataupun Asia lebih fokus di gim berbasis ponsel alias mobile games, berbeda dengan Amerika atau Eropa yang banyak bermain di gim komputer. Ini tak lepas dari urusan daya beli masyarakat. Di Asia, lebih banyak yang memiliki ponsel pintar ketimbang komputer, seiring harganya yang terjangkau.

Di Indonesia, Mobile Legends masih jadi gim paling populer, ini terlihat dari jumlah penonton pertandingan dan besarnya basis fans tim e-sports untuk gim tersebut. Selain Mobile Legends, gim yang juga populer seperti PUBG mobile dan Free Fire. Klub e-sports di dalam negeri paling tidak memiliki tim untuk salah satu gim ini.

Meski begitu, klub juga ada yang memiliki tim gim komputer di Indonesia, contohnya Evos dengan tim Point Blank. Biasanya, klub mempertahankan tim untuk cabang gim karena adanya kompetisi reguler yang berjenjang hingga ke level dunia, selain popularitas gim yang masih cukup besar di masyarakat.

Pemain E-sports Jalani Latihan Layaknya Atlet Profesional

E-sports bukan olah raga main-main, meskipun yang dipertandingkan gim. Klub e-sports profesional merancang metode latihan yang disiplin. Para atlit bisa menjalani latihan hingga belasan jam per hari. Bahkan, banyak di antaranya tinggal dalam asrama yang biasa disebut gaming house selama berbulan-bulan hingga setahun penuh bila pertandingan padat.

Manajemen e-sports bisa dibilang mirip dengan manajemen klub sepak bola profesional. Para atleit menjalani latihan dengan jadwal yang teratur. Bahkan, dalam satu atau dua tahun ini, klub mulai menyediakan pelatih alias coach yang berasal dari eks pemain profesional. Latihan tidak melulu di depan layar ponsel atau komputer, juga latihan fisik.

Vice President E-sports Evos Aldean Tegar mengatakan seluruh anggota tim utama di klub tersebut wajib tinggal di gaming house. Tim utama adalah yang bermain di gim dengan liga besar sehingga menghadapi jadwal pertandingan yang padat. Tiap cabang gim memiliki gaming house yang terpisah.

Namun, khusus tim perempuan tidak tinggal di gaming house. “Tim ladies Point Blanc atau Mobile Legends tidak ada gaming house, paling dua tiga minggu sebelum turnamen baru tinggal bareng, habis itu pulang dan melakukan latihan secara online,” kata dia dalam wawancara dengan katadata.co.id

Tiap tim memiliki jadwal latihan yang disepakati bersama coach dan manajer, namun umumnya, lama latihan full screen 8-12 jam. “Di luar itu, mereka pasti main-main juga, sama-sama (dihitung) dengan itu, full day,” kata dia. Latihan fisik dan mental juga masuk dalam agenda.

Mekanisme latihan di RRQ dan Onic kurang lebih sama dengan yang dijalankan Evos. CEO RRQ Adrian Pauline mengatakan, klub menganggap anggota tim sebagai atlet profesional. Maka itu, ada jadwal rutin dan coach yang melatih. “Mereka berlatih untuk achievements,” ujarnya. Latihan mencakup teknik dan mekanik, termasuk strategi dan rotasi, dengan waktu latihan 8-11 jam.

Selain itu, ada juga latihan fisik untuk menjaga stamina. Tahun lalu, menjelang kejuaraan nasional besar, RRQ bahkan mendatangkan tim psikolog dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia untuk merekatkan dan memperkuat mental para pemain. “Main game ketika di turnamen besar bukan hanya baik-buruk skill karena semua orang yang ikut turnamen pasti bagus, tapi mental menentukan,” ujarnya.

Managing Director Onic e-sports Chandra Wijaya berpendapat selain kemampuan, chemistry, kerja sama tim, dan rasa saling percaya penting dalam membangun tim yang kuat. Maka itu, mengumpulkan tim untuk tinggal seatap di gaming house sebagai strategi yang penting. Meskipun, tidak semua klub melakukan hal yang sama. Di gaming house Onic, ia mengatakan, tim bisa latihan selama delapan jam sehari, yang dilanjutkan dengan latihan mandiri.

Lantas berapa lama para atlet e-sports ini tinggal di gaming house? Menurut Chandra, lama tinggal di gaming house berbeda-beda sesuai jadwal liga masing-masing. MPL misalnya memiliki dua season setahun dengan jeda antar-season sekitar dua bulan. Di jeda tersebut biasanya ada libur, sebelum kembali latihan. Namun, libur bisa sangat ketat.

Tahun lalu, Aldean menjelaskan tim Evos untuk gim Arena of Valor alias AOV agak sibuk hingga nyaris tak ada istirahat panjang. Ini lantaran banyaknya kejuaraan dari mulai AOV Star League, AOV World Cup, hingga Sea Games.

Halaman selanjutnya: Persaingan Atlet Kompetitif, Tiap Tahun Ada Pemain Bintang Baru

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait