Marak Penipuan Atas Nama Ditjen Bea Cukai, Ada Enam Modus

Ditjen Bea Cukai mencatat ada 1.501 laporan penipuan tahun lalu, naik dari 2018 sebanyak 1.463 laporan.
Agatha Olivia Victoria
3 Maret 2020, 21:06
Bea Cukai, Penipuan, Penipuan Bea Cukai, Modus Penipuan Bea Cukai
ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Petugas Bea Cukai Kualanamu mengecek barang kiriman luar negeri di gudang Sentral Pengolahan Pos (SPP) PT Pos Medan-Tanjung Morawa di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Rabu (29/1/2020).

Kasus penipuan dengan mencatut nama Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai semakin marak. Modus yang digunakan di antaranya menawarkan barang sitaan atau black market kemudian mengancam peminat dengan hukuman denda dan penjara, kiriman barang dari luar negeri tertahan, hingga lelang fiktif.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Syarif Hidayat menjelaskan jumlah penipuan di awal tahun ini sudah mencapai 238 laporan. "Jika tidak diatasi, dalam tahun ini bisa mencapai sekitar 3.000 laporan," kata dia dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (3/3).

Sedangkan tahun lalu, Ditjen Bea Cukai mencatat adanya 1.501 laporan penipuan, naik dari tahun 2018 sebanyak 1.463 laporan. Menurut Syarif, penipu menggunakan identitas pejabat Bea dan Cukai dalam aksinya. Identitas Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi paling sering digunakan.

(Baca: Tiga Syarat Ponsel dari Luar Negeri di Atas Rp 7 Juta Tidak Diblokir)

Advertisement

Terdapat beberapa modus yang biasa digunakan para penipu. Modus pertama yaitu menawarkan barang sitaan Bea Cukai, tanpa pajak, black market, atau barang kapal melalui media sosial. "Modus ini dilakukan melalui penawaran kepada siapa saja secara acak lewat email, Whatsapp, Facebook, hingga instagram," ujar Syarief.

Untuk menjerat korban, pelaku biasanya menjual barang dengan harga murah yang tidak wajar dengan dalih barang tersebut adalah barang black market yang akan dikirim tanpa melewati pemeriksaan Bea Cukai. Kepada pembeli, pelaku tidak memberikan nomor resi atau memberikan resi palsu.

Oknum yang mengaku sebagai petugas Bea dan Cukai kemudian menghubungi korban dan menyatakan bahwa barangnya ditahan, lalu meminta pembayaran dengan nominal tertentu ke rekening pribadi pelaku.

Mayoritas korban diancam akan dijemput polisi, dikenakan hukuman kurungan penjara dan denda puluhan juta jika tidak mentransfer uang sesuai permintaan pelaku.

(Baca: Negara Terima Rp 6,48 T dari Lelang Barang Sitaan Lima Tahun Terakhir)

Modus kedua yaitu lelang fiktif. Pada modus ini, pelaku menawarkan lelang barang kiriman bea cukai melalui SMS berantai. Lelang barang ini dilakukan dengan harga murah, yang biasanya disertai dengan embel-embel sitaan bea cukai, barang black market, riskon cuci gudang, dan sebagainya.

Syarif menegaskan bahwa Ditjen Bea dan Cukai tak pernah melakukan lelang secara tertutup. Lelang resmi akan selalu diumumkan melalui akun resmi institusi.

Modus ketiga, kiriman barang dari luar negeri tertahan. Pelaku berkenalan dengan korban melalui media sosial. Setelah beberapa lama, pelaku mengirimkan barang kepada korban. Kemudian, pelaku lainnya yang mengaku sebagai petugas Bea dan Cukai menghubungi korban dan menyatakan bahwa barang ditahan karena nilainya melebihi batas pembebasan.

Korban kemudian diminta mentransfer sejumlah uang agar barang bisa diterima. "Modus ini paling banyak digunakan dengan motif asmara dan kaum hawa yang paling banyak terkena," ucap Syarief.

Modus keempat yaitu teman ditahan karena membawa uang. Penipu berkenalan dengan korban melalui media sosial. Setelah beberapa lama, kemudian pelaku menyatakan ingin datang ke Indonesia. Pelaku yang kemudian mengaku sudah sampai di Indonesia menghubungi korban dan menyatakan sedang ditahan Ditjen Bea dan Cukai karena membawa uang berlebih.

Setelah itu, penipu akan menghubungi korban dan meminta ditransferkan sejumlah uang agar dirinya bisa dibebaskan.

Modus kelima, penipuan berdalih kiriman diplomatik tertahan. Penipu berkenalan dengan korban melalui media sosial, lalu mengaku telah mengirimkan barang berharga kepada korban melalui kiriman diplomatik. Untuk meyakinkan korban, pelaku kadang membuat web tracking seolah barang betul tertahan di Bea Cukai. Selanjutnya, korban diminta mentransfer sejumlah uang agar paket bisa diteruskan kepada korban.

Modus keenam yakni jasa penyelesaian kasus tangkapan Bea Cukai. Penipu mengaku sebagai pejabat Ditjen Bea dan Cukai dan menawarkan jasa membantu penyelesaian kasus dan mengembalikan barang yang telah disita Bea Cukai.

Syarief menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menghindari penipuan yang mengatas namakan Bea Cukai. Pertama, dengan mengenali rekening yang digunakan pelaku. Untuk diketahui, pembayaran bea masuk dan pajak impor langsung ke rekening penerimaan negara menggunakan dokumen Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP).

Kedua adalah dengan memanfaatkan laman pengecekan di www.beacukai.go.id/barangkiriman untuk mengetahui apakah kiriman dari luar negeri benar-benar ada. Terakhir, melapor kepada Bea Cukai bila dihubungi oleh oknum yang mengaku sebagai petugas Bea Cukai.

Bea Cukai dapat dihubungi melalui media sosial fanspage www.facebook.com/beacukaiRIwww.facebook.com/bravobeacukai, Twitter @BeaCukaiRI, Twitter @BravoBeaCukai serta Instagram @BeaCukaiRI. Selain itu, melalui contact center Bea Cukai di 1500225 dan email [email protected].

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait