Pemerintah Pastikan Kurs Rupiah Tak Akan Dibiarkan Menguat Cepat

Menko Luhut Pandjaitan mengatakan rupiah berpotensi semakin kuat setelah Omnibus Law berlaku, dan komitmen investasi UEA terealisasi.
Image title
16 Januari 2020, 12:00
Karyawan menunjukan uang rupiah pecahan 100 ribu dan 50 ribu di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/9/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada awal pekan ini dibayangi sentimen perang dagang, terkait batalnya kunjungan deleg
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Karyawan menunjukan uang rupiah pecahan 100 ribu dan 50 ribu di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/9/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada awal pekan ini dibayangi sentimen perang dagang, terkait batalnya kunjungan delegasi China ke Washington, Amerika Serikat untuk negosiasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tren penguatan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengatakan nilai tukar rupiah akan ditahan agar tak terlalu cepat menguat.

Penguatan ataupun pelemahan cepat rupiah bisa mengganggu kegiatan bisnis, terutama yang terkait ekspor dan impor. "Kita harus tahan jangan terlalu cepat menguat, kalau cepat menguat nanti masalah," kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu (15/1) malam.

(Baca: Dibuka Menguat, Rupiah Berpotensi Melemah Usai Euforia Damai Dagang)

Luhut mengatakan, penguatan rupiah saat ini terjadi karena mekanisme pasar. Penyebabnya, peningkatan optimisme investor terhadap kebijakan pemerintah selama lima tahun terakhir.

Advertisement

Ia memperkirakan rupiah berpotensi semakin kuat setelah Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan berlaku. Penguatan rupiah juga potensial terjadi saat komitmen investasi Uni Emirat Arab terealisasi, termasuk yang terkait dengan dana abadi (Sovereign Wealth Fund).

(Baca: Kunjungi Abu Dhabi, Jokowi Borong 16 Komitmen Investasi Rp 319 Triliun)

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 13.695 per dolar AS pada penutupan perdagangan di pasar spot, Rabu (15/1). Artinya, nilai tukar menguat 1,42% dibandingkan posisinya pada awal tahun ini. Hingga saat berita ini ditulis, tren penguatan masih berlanjut.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan penguatan rupiah belum mempengaruhi APBN. "Kami masih akan lihat satu tahun ini. Pengaruhnya kepada APBN tidak dilihat per hari," ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya masih terus memantau perkembangan ekonomi dalam negeri dan global. Dia berharap akan adanya kejelasan pada perjanjian AS-Tiongkok serta tren pemangkasan suku bunga global lebih lanjut. Dengan begitu, aliran modal yang masuk akan lebih deras.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait