Bangkok Bank dan Sumitomo Bersaing Akuisisi 90% Saham Bank Permata

Martha Ruth Thertina
12 Desember 2019, 15:15
Bank Permata, Akuisisi Bank Permata, Bangkok Bank
Katadata

Bangkok Bank dan Sumitomo Mitsui Financial Group dikabarkan berada dalam putaran final persaingan untuk mengakuisisi 90% saham Bank Permata yang bernilai pasar US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 32,3 triliun. Kabar ini diberitakan Bloomberg, berdasarkan informasi dari sumber yang meminta dirahasiakan identitasnya.

Menurut sumber tersebut, pemenang dari persaingan ini mungkin saja diputuskan paling cepat pekan depan, meskipun negosiasi bisa saja membuatnya lebih lambat. Meski begitu, calon investor lain bisa saja muncul selama belum adanya keputusan.

Adapun Bangkok Bank disebut-sebut tengah mencari pasar baru yang menguntungkan di regional seiring suku bunga rendah di negeri Gajah Putih. Indonesia dinilai menawarkan hal ini seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi 5% tahun depan. Maka itu, bank tersebut tertarik.

(Baca: Sumitomo dan Investor Thailand Calon Kuat Pembeli Saham Bank Permata)

Di sisi lain, Sumitomo memang tengah gencar melakukan ekspansi bisnis di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan telah mengakuisisi saham Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Saat ini, Sumitomo merupakan pemegang 92,42% saham BTPN. Pada Februari 2019 lalu, BTPN resmi dimerger dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

Saat ini, mayoritas saham Bank Permata dipegang oleh Standard Chartered dan Astra International dengan kepemilikan masing-masing sebesar 44,6%. Sebelumnya, beberapa institusi finansial lainnya dikabarkan  menunjukkan minat untuk mengakuisisi Bank Permata, termasuk Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan DBS Group Holding.

(Baca: Ramai Bank Asing Masuk ke Indonesia, Bos BCA: Tidak Ada yang Kinclong)

Adapun kinerja Bank Permata pada tahun lalu cukup positif dengan laba konsolidasi Rp 901 miliar, tumbuh 9% dari tahun sebelumnya. Raihan ini merupakan yang tertinggi dalam empat tahun. Berkurangnya kerugian penurunan nilai aset keuangan sebesar 46% menjadi Rp 1,67 triliun dari tahun sebelumnya Rp 3,12 triliun membuat beban operasional juga menyusut 19% menjadi 6,14 triliun. Alhasil, laba bank tersebut pada 2018 tumbuh dari tahun sebelumnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan 2016 lalu. Ketika itu, perusahaan mencatatkan rugi Rp 6,48 triliun akibat melonjaknya kerugian penurunan aset nilai keuangan sebesar 232% menjadi Rp 12,2 triliun dari tahun sebelumnya Rp 3,67 triliun. Data selengkapnya terkait laba Bank Permata dari 1997 hingg 2018 dalam grafik Databoks di bawah ini:

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait