Dolar AS Perkasa, Rupiah Berisiko Kembali Tembus 14.100/US$

Beberapa faktor mendorong penguatan dolar AS, di antaranya sikap keras yang ditunjukkan Presiden Donald Trump terkait kesepakatan dagang dengan Tiongkok.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
13 November 2019, 19:07
Rupiah, nilai tukar rupiah, rupiah melemah
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (1/11/2019). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah menjadi Rp14.066 pada perdagangan Jumat (1/11).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cenderung melemah dalam beberapa hari ini. Setelah sempat menyentuh level 13.900-an per dolar AS, kini rupiah kembali mengarah ke level 14.100 per dolar AS. Pelemahan seiring berbagai perkembangan di global, termasuk kesepakatan dagang AS-Tiongkok.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup turun 0,17% ke level Rp 14.078 per dolar AS pada perdagangan Rabu ini, 13 November 2019. Pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS juga dialami mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini terjadi di tengah penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia.

Di Asia, pelemahan terbesar dialami rupee India yaitu 0,87%, diikuti won Korea Selatan 0,55%. Adapun indeks dolar AS tercatat cenderung naik sejak pekan lalu hingga saat ini berada di level 98,3, tertinggi sejak pertengahan Oktober. Index dolar AS menunjukkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang mitra dagang utamanya.

(Baca: Terpukul Perang Dagang, Perusahaan Jerman Ingin Hengkang dari Tiongkok)

Analis PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, ada beberapa faktor yang mendorong penguatan dolar AS, di antaranya sikap keras yang masih ditunjukkan Presiden Donald Trump terkait kesepakatan dagang dengan Tiongkok.

Dalam pidatonya baru-baru ini, Trump mengancam bahwa AS akan secara substansial meningkatkan tarif di Tiongkok jika kesepakatan dagang tak tercapai. Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa hal tersebut akan berlaku untuk negara-negara lain yang memperlakukan AS dengan tidak adil.

"Sentimen tersebut memperkuat indeks dolar AS dan membuat rupiah melemah," kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (13/11).

Faktor lainnya, penantian pasar terhadap pidato pimpinan bank sentral AS, malam ini. Pelaku pasar disebut-sebut menantikan pidato tersebut untuk mendapatkan pencerahan tentang kondisi ekonomi terkini dan arah kebijakan moneter AS.

"Ia akan bersaksi tentang prospek ekonomi AS sebelum kongres Komite Ekonomi Bersama," kata Ibrahim.

(Baca: Pidato Trump Angkat Emas Dunia, Harga Logam Mulia Antam Naik)

Lebih lanjut, ia menyebut kerusuhan di Hong Kong sebagai faktor lain yang mendorong penguatan dolar AS. Ia menjelaskan, kerusuhan Hong Kong terus mendapat perhatian seiring langkah polisi memerangi demonstran pro-demokrasi di beberapa universitas.

Beberapa jaringan transportasi, sekolah, dan banyak bisnis tutup pekan ini di tengah meningkatnya kekerasan.

Ibrahim memperkirakan, rupiah masih akan melemah pada perdagangan esok. Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp 14.050 - 14.110 per dolar AS.

Video Pilihan

Artikel Terkait