Kemenkeu Tunda Penyederhanaan Golongan Tarif Cukai Rokok Hingga 2020

Penundaan dengan mempertimbangkan nasib industri rokok. "Jangan sampai simplifikasi mematikan yang lain,” kata Dirjen Bea dan Cukai.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
31 Oktober 2019, 18:34
cukai rokok, tarif cukai rokok, kementerian keuangan
Donang Wahyu|KATADATA
Rokok

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunda penyederhanaan atau simplifikasi golongan tarif cukai rokok. Penundaan dengan mempertimbangkan nasib industri rokok dalam negeri.

"Jangan sampai simplifikasi mematikan yang lain. Kalau mereka mati, akan masuk ruang untuk yang ilegal," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi di Gedung Kemenkeu, Jumat (31/10).

(Baca: Dibayangi Kenaikan Cukai Rokok, Laba Bersih Gudang Garam Tumbuh 25%)

Sejauh ini, ia mengatakan, simplifikasi golongan tarif masih dalam pengkajian dan belum ada keputusan untuk membatalkan wacana tersebut. Sebab, banyaknya golongan tarif juga dinilai bisa menjadi celah bagi para penjual rokok ilegal.

Dengan penundaan tersebut maka golongan tarif tetap berlaku sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua PMK 146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. "10 layer akan tetap berlaku di tahun 2020," ucap dia.

Dalam PMK 152, pemerintah menetapkan harga minimum rokok menurut jenisnya yang kemudian menjadi acuan penggolongan tarif cukai. Rata-rata tarif cukai rokok naik sekitar 23% mulai 1 Januari 2020.

(Baca: Tarif Cukai Naik per 1 Januari, Ini Daftar Harga Eceran Baru Rokok)

Pada jenis rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) golongan I, batasan harga paling rendah ditetapkan Rp 1.700 per batang atau gram dengan tarif cukai Rp 740. Kemudian, jenis rokok SKM golongan II, harga terendah Rp 1.020 hingga Rp 1.275 per batang atau gram, dengan tarif cukai Rp 455. Namun, untuk rokok jenis SKM II yang harganya lebih dari Rp 1.275 per batang atau gram dikenakan tarif cukai Rp 470.

Pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) golongan I, ditetapkan harga terendah Rp 1.790 dengan tarif cukai Rp 790. Sementara untuk golongan II ditetapkan harga terendah Rp 1.015 hingga Rp 1.485 dengan tarif cukai Rp 470. Namun, jika harga ditetapkan lebih dari Rp 1.485, tarif cukai dikenakan sebesar Rp 485.

(Baca: Sepanjang 2019 Bea Cukai Tangani 4.724 Kasus Rokok dan Miras Ilegal)

Pada jenis rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan (SPT) golongan I ditetapkan harga terendah Rp 1.015 sampai Rp 1.460 dengan tarif cukai Rp 330. Sementara untuk rokok jenis ini yang harganya lebih dari Rp 1.460, ditetapkan cukai Rp 425. Adapun untuk golongan II, ditetapkan harga paling rendah Rp 535 dengan tarif cukai Rp 200. Dan untuk golongan III, ditetapkan harga paling rendah Rp 450 dan dikenakan cukai Rp 110.

Jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) dan Sigaret Putih Tangan Filter (SPTF) dikenakan harga paling rendah Rp 1.700 dengan tarif cukai Rp 740. Sedangkan harga paling rendah untuk rokok Jenis Tembakau Iris (TIS) ditetapkan Rp 55 hingga Rp 275 dengan tarif cukai Rp 10 hingga Rp 30 per batang.

Selanjutnya, jenis rokok daun (KLB) dikenakan harga terendah Rp 290 dengan cukai Rp 30. Jenis rokok Sigaret Kelembak Kemenyan (KLM) dikenakan harga paling rendah Rp 200 dengan cukai Rp 25.

Terakhir, untuk jenis cerutu, dikenakan harga paling rendah Rp 495 hingga Rp 198.000. Untuk cerutu dengan kisaran harga Rp 495-Rp 5.500 dikenakan cukai Rp 275. Lalu cerutu harga Rp 5.500-Rp 22 ribu dikenakan cukai Rp 1.320. Cerutu dengan harga Rp 22 ribu-Rp 55 ribu terkena cukai Rp 11 ribu. Cerutu seharga Rp 55 ribu-Rp 198 ribu terkena cukai Rp 22 ribu. Sementara itu, untuk harga cerutu di atas Rp 198 ribu akan dikenakan cukai sebesar Rp 110 ribu.

Adapun untuk rokok yang berasal dari impor, harga yang ditetapkan bervariatif mulai dari Rp 200-Rp 198.001 dan cukai mulai dari Rp 30 ribu-Rp 110 ribu.

Video Pilihan

Artikel Terkait