Kisruh Pergantian Dirut: Harga Saham BTN Melesat, BRI Bergerak Liar

Harga saham bank-bank BUMN berada di zona hijau.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
30 Agustus 2019, 10:29
BRI, BTN, pergantian direksi BUMN, pergantian dirut BUMN, BBRI, BBTN
KATADATA
Bank BRI

Harga saham Bank Tabungan Negara (BBTN) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) justru menghijau di tengah kisruh pergantian direktur utama. Saham BTN berbalik naik dari penurunan empat hari berturut-turut, sedangkan harga saham BRI bergejolak setelah mengalami penurunan tipis sehari sebelumnya.

Harga saham BRI dibuka turun pada perdagangan Jumat, 30 Agustus 2019. Harga saham sempat terkoreksi 1,9% ke posisi Rp 4.120, namun kemudian berbalik menguat. Harga saham BBRI sempat naik 0,71% ke posisi Rp 4.230. Saat berita ini ditulis, kenaikan harga saham menyusut menjadi 0,24% ke posisi Rp 4.210.

(Baca: Menghijaunya Rapor Keuangan BRI di Bawah Pimpinan Suprajarto)

Berdasarkan data pukul 09.15 WIB, saham BRI yang ditansaksikan sebanyak 27,42 juta saham, dengan nilai transaksi Rp 114,27 miliar, dan frekuensi 1.810 kali. Investor asing terpantau melakukan aksi jual, dengan nilai jual bersih Rp 3,61 miliar.

Di sisi lain, harga saham BTN langsung dibuka menguat. Harga sahamnya sempat naik 2,9% ke posisi Rp 2.090. Saat berita ini ditulis, kenaikan harga saham menyusut menjadi 1,48% ke posisi Rp 2.060.

Berdasarkan data pada pukul 09.16 WIB, saham BTN ditransaksikan sebanyak 3,41 juta saham, dengan nilai transaksi Rp 6,97 miliar, dan frekuensi 521 kali. Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual, dengan nilai jual bersih Rp 792,05 juta.

(Baca: IHSG Hari ini Berpotensi Naik, Saham Bank & Real Estate Direkomendasi)

Saham bank pelat merah lainnya juga tercatat berada di zona hijau. Saat berita ini ditulis, harga saham Bank Mandiri (BMRI) tercatat naik 1,77% menjadi Rp 7.200. Sedangkan saham Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 1,33% menjadi Rp 7.650.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, efek dari kisruh pergantian direktur utama di BRI dan BTN hanya bersifat sementara dan semestinya tidak membuat investor was-was."Sebaiknya investor mencermati kinerja fundamental emiten," kata Nafan kepada katadata.co.id, Jumat (30/8).

Video Pilihan

Artikel Terkait