Neraca Dagang Surplus Dorong Kurs Rupiah Semakin Perkasa

Nilai tukar rupiah menguat 1,63% dalam sepekan hingga kembali ke kisaran 14.100 per dolar AS. Ekonom peringatkan nilai tukar rupiah masih rentan gejolak.
Agatha Olivia Victoria
25 Juni 2019, 15:28
nilai tukar rupiah hari ini, nilai tukar rupiah menguat seiring surplus neraca dagang dan ekspektasi penurunan bunga The Fed
Donang Wahyu|KATADATA
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 14.104 per dolar AS pada Selasa (25/6) siang, menguat 1,6% dalam sepekan.

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berlangsung sejak Selasa (18/6) pekan lalu, terus berlanjut. Pada perdagangan di pasar spot Selasa (25/6) siang, nilai tukar rupiah berada di posisi 14.104 per dolar AS. Ini artinya rupiah menguat 1,63% dalam sepekan perdagangan.

Ekonom Universitas Indonesia Telisa Aulia Fanty mengatakan nilai tukar rupiah menguat seiring terus mengalirnya arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Penyokong terbarunya, yakni perbaikan neraca dagang Indonesia. Perbaikan ini diyakini memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang surplus US$ 210 juta pada Mei, berbanding terbalik dari defisit US$ 2,5 miliar pada April. "Penguatan rupiah ini tentunya dipengaruhi neraca dagang kita yang membaik dan surplus," kata Telisa kepada Katadata.co.id, Selasa (25/6).

(Baca: Kendati Neraca Dagang Surplus, Pelemahan Ekspor Masih Membayangi)

Advertisement

Mengacu pada data RTI, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih saham sebesar Rp 2,4 triliun dalam sebulan perdagangan. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Keuangan per 20 Juni lalu, kepemilikan asing meningkat Rp 16,65 triliun sepanjang Juni.

Selain pengaruh neraca dagang, Telisa mengatakan, berlanjutnya arus masuk modal asing seiring ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed). Terhentinya kenaikan atau bahkan penurunan suku bunga AS bisa meningkatkan daya tarik aset keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut dia, hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Osaka, Jepang, terkait isu dagang akan menjadi bahan pertimbangan The Fed dalam memutuskan kebijakan suku bunganya. "Yang pasti, kemungkinan suku bunga The Fed tidak akan naik," kata Telisa.

(Baca: Rencana Pertemuan Trump-Xi Jinping Membuat Harga Emas Terus Naik)

Senada, Direktur Riset Center On Reform of Economics Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, pasar tengah mengapresiasi perbaikan neraca dagang Indonesia. "Namun, pasar tentunya bisa membaca bahwa perbaikan neraca perdagangan Mei ini masih terlalu minimal dan rentan," kata dia kepada Katadata.co.id.

Dengan surplus kecil pada Mei, neraca dagang kuartal II tahun ini diprediksi masih akan defisit. Begitu juga dengan neraca transaksi berjalan atau neraca dagang barang dan jasa. Ia memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan masih akan mendekati 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Alhasil, ia pun menilai penguatan nilai tukar rupiah masih rentan. "Rupiah masih bisa berubah arah setiap saat," kata dia. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan berada di kisaran Rp. 14.050 hingga Rp. 14.150 per dolar AS.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait